Keliling Surakarta

Kami antar Anda menelusuri sisi Surakarta hingga yang terdalam

Pasar Yaik

Posted by Keliling Surakarta on Februari 12th, 2009

Kota Surakarta kembali menghidupkan pasar malamnya. Namanya Night Market. Lokasinya di Jl. Diponegoro, tepatnya jalan menuju Pura Mangkunegaran dari arah Pasar Pon. Dulu, pasar yang dijejali pedagang kakilima yang menjual aneka macam barang terkenal dengan sebutan Pasar Yaik.

Pasar Yaik

Disebut Pasar Yaik, konon karena kata ya…ikk…! terucap dari mulut penjual sebagai pertanda terjadi kesepakatan, deal harga dengan pembeli, setelah diwarnai tawar-menawar yang sengit, namun penuh keakraban. Konon, Pasar Yaik ramai pada kurun 1970-1980-an sebelum bubar, entah oleh sebab apa.

Pasar Yaik wajah baru sudah mulai diuji coba sejak Selasa (10/2) malam, meski baru akan diremikan pada 16 Pebruari malam, menjelang peringatan ulang tahun Kota Surakarta keesokan harinya. Oleh karena pasar malam, maka pasar yang nantinya khusus untuk penjaja cinderamata dan makanan kering hanya dibuka pada malam hari saja. Sejak pukul 17.00 hingga pagi hari, jalan ditutup untuk berbagai kendaraan sebab dikhususkan bagi pejalan kaki.

Dengan adanya Pasar Yaik, saya senang dan tak lagi bingung setiap ada teman datang bertandang lalu bertanya dimana mereka bisa memperoleh cinderamata khas Sala, sebagai buah tangan, sarana untuk mengenang bahwa mereka pernah menginjakkan kaki di ibukota bekas kerajaan Mataram itu.

Pasar Triwindu Baru

Dulu, saya selalu bingung menjawabnya setiap ada yang menanyakan demikian. Menyarankan ke sisi timur alun-alun utara, barang yang tersedia tak terlalu fleksibel gunanya. Keris, topeng dan semacamnya, memang banyak terdapat di sana. Cocok untuk menghias ruangan. Tapi kalau yang dicari adalah barang-barang yang bisa dibawa kemana-mana semisal kalung, gantungan kunci atau dompet?!?

Syukurlah, Pasar Yaik sudah kembali hadir. Sebutan sebagai kota yang tak pernah tidur kian menemukan bentuknya kembali. Wedangan memang hampir selalu ada di setiap gang-gang di tengah perkampungan atau sepanjang jalan-jalan utama. Tapi, itu bukan tempat yang cocok untuk jalan-jalan memanjakan mata dan nafsu belanja.

Bisa jadi, Pasar Triwindu (yang kini berganti nama menjadi Pasar Windujenar) akan ikut-ikutan bukan hingga malam hari bila, kelak, Pasar Yaik sukses meneguhkan citra Surakarta sebagai kota wisata. Barang-barang antik yang dijual di sana, akan menggenapi minat para turis kategori wisata belanja.

Memang, ada sebagian orang yang mencibir bahwa Pasar Yaik tak melulu dijual barang-barang asli buatan Sala. Namun, bagi saya, tak ada salahnya membiarkan Pasar Yaik berjalan secara alamiah, mengikuti hukum penawaran dan permintaan. Kian beragam yang dijajakan, makin banyak pula alternatif pilihan belanjaan.

Pasar Windujenar

Siapa tahu, Surakarta, Sala atau yang lebih populer dengan sebutan Solo, menjadi outlet aneka produk kerajinan se-Jawa Tengah. Ada tenun Troso, lurik Pedan, atau batik Slawi dan Kebumen. Seperti Singapura, yang tak punya produk asli, namun aneka jenis produk global tersedia di sana. Daripada pasar kita dipenuhi produk-produk murahan dari China, masih lebih bagus disesaki karya kreatif bangsa kita sendiri.

Posted in Suasana Kota | 12 Comments »

Sebuah Kitab tentang Solo

Posted by Keliling Surakarta on Januari 23rd, 2009

Sebuah buku yang bertutur relatif detil tentang Surakarta, Sala atau yang populer dengan sebutan Solo. Cocok dijadikan bacaan untuk orang dari luar Sala, meski sejatinya juga menarik untuk dijadikan bacaan penting bagi anak-anak muda, remaja, khususnya di Surakarta, yang sudah banyak yang lupa sejarah nenek moyangnya. Sayang, buku yang diterbitkan oleh Badan Informasi dan Komunikasi Kota Surakarta ini tak beredar luas. Konon, baru dicetak seribu eksemplar.

Kitab Solo

Sebagai orang Klaten yang menetap di Surakarta sejak 22 tahun silam, saya merasa memperoleh pencerahan, sebuah pemahaman baru tentang Sala, Solo dan Surakarta dari buku yang dinamai Kitab Solo oleh penulisnya, Mas Sarwendo, eh… Arswendo Atmowiloto itu.

Meski lahir dan besar di Sala -bahkan di usia sepuhnya beroleh gelar Kangjeng Raden Tumenggung dari Kraton Surakarta, beliau sanggup berjarak, bisa menuangkan penilaiannya tentang kota Surakarta dengan sedemikian kontemplatif dan obyektif. Andai tulisannya itu ditampilkan di website, pastilah akan menjadi panduan menarik bagi banyak orang. Guidance untuk bisa lebih tahu banyak dan memahami kenapa kebudayaan Jawa bisa begitu lentur, adaptif dan fleksibel terhadap perubahan jaman.

Bahkan, ketika banyak orang (termasuk saya) tidak lagi memercayai eksistensi kraton sebagai sumber tuladha, panutan dalam bersikap dan bertingkah laku, Mas Sarwendo bisa sedemikian gamblang menyodorkan sejumlah fakta yang tak bisa dihindari oleh siapapun. Betapa tata nilai, aura Surakarta dan tetek bengek manifestasi sikap ke-Jawa-an seseorang, semua bermuara pada kearifan tradisional yang dicontohkan oleh Sultan Agung.

Kalaupun harus saya sebutkan ‘cacat’ pada buku itu, yang terutama adalah banyaknya salah ketik, juga ejaan yang menurut saya kurang taat pada pakem, kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan betul. Hampir setiap tiga-lima halaman terlampaui, rasa risih saya selalu muncul sebagai reaksi atas sebuah teks. Ada kesan, Mas Wendo terburu-buru menggarap naskahnya. Atau karena editornya yang tak bekerja dengan teliti, sehingga kekeliruan-keleliruan ‘kecil’ terus berulang sehingga menjadikan Kitab Solo memancing kesan dikerjakan secara serampangan.

Padahal, dari sisi content, buku ini layak dibaca dan dijadikan rujukan bagi orang-orang yang ingin tahu budaya Jawa (baca: Sala) secara -kata Basiyo- lebih mendalem. Para pemandu wisata pun wajib membaca buku ini, sehingga bisa menuntun pada pemahaman yang lebih mendalem tentang Surakarta dan obyek-obyeknya. Dengan referensinya yang kian banyak, maka telling story-nya bisa digunakan untuk ngglembuk, melakukan persuasi kepada pelancong agar lebih betah tinggal (dan belanja) di Sala.

Satu kekurangan lainnya, Mas Wendo terlalu serius dalam menyampaikan gagasannya melalui buku ini. Kurang nyantai dan kurang lepas dalam bertutur, walau saya bisa memahami beliau sudah berjuang keras untuk tebitnya buku itu.

Ah, mungkin saya saja yang sok-sokan dan berharap terlalu banyak pada Mas Wendo. Tapi teniiin, saya ora ngapusi, bahwa buku ini memang kurang enak dibaca, apalagi bila kita sudah khatam membaca Canthing atau Senopati Pamungkas. Kita seperti kehilangan ruh penulisan gaya Mas Wendo.

Saestu lho, Mas Wendo…..

Jujur, begitulah kesan saya setelah membaca berulang-ulang Kitab Solo. Kok bisa, ya?

Posted in Pernik | 10 Comments »

Batik itu, Ya Laweyan

Posted by Keliling Surakarta on Januari 21st, 2009

Batik Surakarta itu, ya Laweyan. Dari tlatah Pajang, batik mengular menyesuaikan alur Kali Laweyan, masuk Bengawan Solo dan seterusnya sampai ke Laut Jawa, hingga muncullah motif batik pesisiran. Ekspor barang dari Indonesia dalam pengertian modern, konon berupa batik asal Laweyan pada awal 1930-an.

membatik lagi

Kenapa batik Surakarta harus identik dengan Laweyan, sebab di sanalah konon batik bermula, diproduksi secara turun-temurun. Kyai Ageng Henis-lah yang memperkenalkan batik kepada penduduk sekitar Pajang pada awal abad ke-16. Setidaknya, begitulah yang diyakini warga Laweyan hingga kini.

Asal tahu saja, masyarakat batik Laweyan masih bertahan pada definisi kata batik, yang tidak hanya merujuk pada sebuah motif semata. Mereka menolak produk pabrikan, yang dibuat dengan menggunakan mesin-mesin modern sebagai batik. “Disebut batik itu, ya bila dibuat dengan menggunakan malam (lilin) dan melalui proses pewarnaan tertentu,” ujar Gunawan, pengelola rumah batik Putra Laweyan.

Tak hanya Gunawan, Widhiarso juga mengatakan hal yang sama. “Jadi, batik itu bukan terbatas pada motif,” ujar pengurus harian Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu.

Naik-turun usaha batik Laweyan selalu beriringan dengan dinamika politik nusantara, sejak sebelum maupun setelah bernama Indonesia. Pada masa penjajahan dulu, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak laluasa dilakukan.

batik_laweyan_7860.jpg

Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional, dilaporkan kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi. Ironisnya, masyakarat Laweyan merasa digencet justru pada masa Orde Baru.

Soeharto dianggap sebagai orang di balik masuknya mesin-mesin tekstil modern ke Surakarta melalui Batik Keris. “Tidak mungkin mesin tekstil didatangkan kalau tidak untuk menggencet usaha batik Laweyan. Apalagi, penempatan lokasi pabrik berdekatan dengan Laweyan,” ujar Pak Yanto, juru kunci Makam Kyai Ageng Henis.

Pak Yanto bertutur, sebelum Batik Keris hadir pada awal 1970-an, usaha batik sangat maju. “Di sini banyak saudagar kaya, yang mempekerjakan setidaknya 100 orang setiap rumah,” kenang Pak Yanto. Selain para buruh, kehadiran Batik Keris juga memukul usaha-usaha pemintalan benang yang dikelola perorangan, juga sentra industri lurik di Pedan, Klaten.

“Semua gulung tikar. Orang juga tak mau lagi menjalankan usaha pembuatan benang dari kapas karena kalah murah dengan barang-barang keluaran pabrik modern. Padahal, dulu banyak orang menanam kapas di sepanjang tepian sungai,” tambah Pak Yanto.

Dawet Laweyan

Laweyan sendiri, berasal dari kata lawe, yakni serat-serat kapas halus yang merupakan bahan baku pembuatan kain mori. Kata Laweyan menunjukkan tempat dimana banyak benang lawe di sana.

Tapi, wajah Laweyan kini sudah tak semuram beberapa puluhan tahun silam. Popularitas batik yang kian meningkat, bahkan ke kalangan anak-anak baru gede dan remaja, membuat kebutuhan akan bahan batik terdongkrak pula. Dan Laweyan, kini mulai menggeliat. Bila hingga 2004 lalu hanya tersisa 11 usaha batik, kini sudah mencapai 60-an orang yang menghidupkan kembali usaha batik, khususnya batik cap dan batik tulis.

Kunjungan Blogger

Apa yang dilakukan Pak Alpha, Mas Gunawan, Mas Widhiarso dan kawan-kawan lewat Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan berbuah apresiasi. Pada 7 Januari lalu, Laweyan diganjar hadiah upakarti yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk kategori kepeloporan mereka menghidupkan Laweyan, bukan saja sebagai kampung batik, namun juga kawasan heritage.

Seberapa mahal harga batik Laweyan? Jawabannya adalah relatif. Batik cap bisa Anda beli dengan harga mulai Rp 50 ribuan hingga ratusan ribu. Namun untuk batik tulis, selain kerumitan motif harga juga ditentukan oleh jenis bahan (ada mori hingga sutera). Kalau Anda mesti merogoh kocek hingga jutaan rupiah, jangan dulu Anda menganggap mahal.

Coba Anda hitung sendiri, berapa ongkos produksinya bila untuk menghasilkan satu stel bahan batik saja, ibu-ibu di Laweyan sana harus menorehkan malam lewat canthing selama satu hingga dua bulan? Di luar harga bahan, coba tengok upah minimum regional (UMR) Surakarta yang sudah di atas Rp 700 ribu.

Maukah Anda dibayar sesuai UMR dan harus suntuk bergaul dengan malam dan canthing selama itu hanya demi mengenakan batik tulis untuk menghadiri sebuah pesta atau pertemuan bisnis?

Posted in Muasal | 11 Comments »

Festival di Pecinan

Posted by Keliling Surakarta on Januari 19th, 2009

Sebuah arak-arakan berlangsung meriah, Minggu (18/1) sore. Rombongan berangkat dari Pasar Harjanagara –lebih terkenal dengan sebutan Pasar Gede, berkeliling melewati kampung Sudiroprajan, perempatan Warung Pelem dan berakhir di Pasar Gede. Ada warna-warni liong, samsi dan dua naga, juga rombongan berkostum panakawan.

Liong di Pasar Gede

Peristiwa yang baru pertama kali digelar itu dinamai Grebeg Sudiro. Dikemas dengan sajian multikultur, sebab peristiwa itu sejatinya merupakan peristiwa budaya, yang sengaja diciptakan untuk menambah event dalam kalender acara wisata Surakarta.

Asal tahu saja, Sudiro(prajan) dan Pasar Gede merupakan kawasan yang saling terkait. Kampung Sudiroprajan lebih dikenal sebagai kampung peranakan Cina sebab di situlah Pemerintah Belanda menempatkan mereka sebagai koloni. Tak jauh dari Pecinan, terdapat koloni Arab di Pasar Kliwon. Di antara dua koloni itu, Belanda dan peranakan Eropa membuat kampung ‘pembatas’ yang di kemudian hari dikenal dengan nama loji Wetan.

Itu semua merupakan strategi kolonialis Belanda untuk memperkuat kedudukannya sebagai penguasa Jawa, bahkan di atas Kraton Surakarta. Strategi pecah belah dilakukan dengan memberi banyak priviles kepada keturunan Cina, bahkan kedudukan setingkat lebih tinggi dibanding keturunan Arab. Di komunitas Sudiroprajan diangkat centeng berpangkat mayor, sementara di Pasar Kliwon hanya berpangkat kapten. Padahal, fungsinya mereka sama: sebagai pengumpul pajak dan penanggung jawab keamanan di masing-masing komunitas.

grebeg_sudiro_7711.jpg

Kembali ke Grebeg Sudiro, festival itu mestinya bisa diperluas cakupannya, tidak sebatas kegiatan amal seperti pengobatan tusuk jarum gratis atau pembagian sembako dan sejenisnya. Kegiatan-kegiatan karitatif semacam itu justru akan membenarkan prasangka dan jebakan stereotiping, dimana keturunan Cina lebih mapan secara ekonomis dibanding mereka yang merasa lebih ‘pribumi’.

Padahal, di Sudiroprajan pula, sangat banyak saudara-saudara kita yang beretnis Cina juga hidup dalam situasi ekonomi serba pas-pasan. Mereka yang berhasil dan kaya, kebanyakan sudah menetap di luar Sudiroprajan.

Satu catatan pribadi saya atas Grebeg Sudiro adalah kurang beragamnya tampilan. Banyak jenis kesenian warisan nenek moyang kaum Tionghoa seperti wayang potehi, atau musik khas Tiongkok dan sebagainya di Surakarta. Sebab, kalau tak salah ingat, masih ada grup musik di Gandekan, dimana para musisinya juga masih hidup hingga kini.

Keragaman menjadi penting dikedepankan, supaya orang tak salah paham dan terjebak pada prasangka yang dilatari oleh ketidaktahuan mengenai kenyataan yang sesungguhnya, sehingga berujung pada pertentangan dan (apalagi) kebrutalan seperti dipertontonkan secara telanjang lewat Drama Dua Hari pada Mei 1998.

grebeg_sudiro_7749.jpg

Tak cuma terhadap pemerintah semata, lebih dari itu, kesadaran dari anggota komunitas keturunan Cina harus lebih ditumbuhkan. Banyak kegiatan amal dilakukan, termasuk partisipasi mereka dalam berbagai musibah, dari bencana tsuami di Aceh, gempa Klaten-Yogyakarta, banjir Surakarta, dan banyak lagi. Sudah banyak catatan keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Lebih dari itu, saya berharap festival-festival mendatang lebih diwarnai kegiatan-kegiatan yang lebih down to earth, dalam bentuk yang lebih praktis dan bersentuhan dengan masyarakat banyak yang eragam latar belakang kultur, sosial, ekonomi dan sikap politiknya.

Jujur, saya rindu dengan sikap ngemong, santun dan memberi aura kedamaian seperti yang ditunjukkan Haksu Tjie Tjay Ieng. Berbincang dengan rohaniwan setingkat dewan syuro dalam Konghucu seperti beliau, saya merasa ayem dan tenang menyongsong masa depan Indonesia. Nah, sifat-sifat seperti beliaulah, yang hingga kini masih saya harapkan tumbuh pada diri para penggerak festival atau Grebeg Sudiro.

Selamat merayakan Imlek saudara-saudaraku. Gong Xi Fat Chai…..

Posted in Suasana Kota | 4 Comments »

Menanti Teladan Pimpinan

Posted by Keliling Surakarta on Januari 7th, 2009

Sala masa kini adalah Sala yang berubah. Banjir ‘ala kadarnya’ kerap menyambangi Jl. Slamet Riyadi di sekitar Sriwedari atau sebelah utara Stadion Manahan. Seolah melengkapi ritual banjir alias terlalu rutin seperti yang mendera kampung Beton dan Joyotakan, nun di tepian Bengawan Solo.

Januari, yang sering diplesetkan menjadi istilah hujan sehari-hari, merupakan masa kritis dimana bah biasa bertandang. Bila sudah demikian, maka pemerintahlah yang menjadi sasaran sumpah serapah. Banyak yang lupa, banjir yang melanda sebagian wilayah Kota Surakarta hingga menyebabkan puluhan ribu warganya mengungsi, setahun silam, bukan semata-mata kesalahan orang Surakarta semata. Entah itu karena warganya yang ogah merawat alam dengan menanam pepohonan atau hati-hati membuang sampah, atau pemerintahnya sebagai penanggung jawab tata kota.

Terendamnya Surakarta tempo hari merupakan akibat air waduk Gajah Mungkur yang tumpah sebab terbatasnya wadah. Pendangkalan menjadi penyebab menyusutnya kemampuan waduk menyimpan air. Ujung-ujungnya, ulah manusia di sekitar waduk menjadi penting diwaspadai. Kampanye menghijaukan pekarangan, ladang dan perbukitan mesti digencarkan sembari dibarengi aksi massif untuk memberi teladan.

Bahwa pengerukan waduk harus segera dilakukan, semua mafhum. Termasuk andai ada yang berkilah, pengerukan menjadi tersendat akibat minimnya dana negara. Tapi ya itu tadi, pemerintah mesti rajin turun ke lapangan untuk memperoleh peta yang sesungguhnya, dimana daerah yang benar-benar paling dominan memberi kontribusi penyusutan kualitas lingkungan. Jangan lagi menggunakan metode usang, menyusun rencana kegiatan dengan mendasarkan semata-mata pada perkiraan atau estimasi. Apalagi, kalau kegiatan semacam itu diorientasikan sebagai proyek. Akibatnya bisa gawat.

Kita berharap, pertemuan para kepala daerah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo dengan otoritas penjaga kali (Proyek Bengawan Solo dan Perum Jasa Tirta), menyusul tragedi banjir Surakarta setahun silam tak berhenti di meja perundingan.

Kini, saat frekwensi hujan terus meningkat baik dalam jumlah maupun durasi, kita belum melihat tanda-tanda adanya tindak lanjut pertemuan itu. Kampanye penyelamatan lingkungan baru sebatas retorika, yang barangkali terpaksa dilakukan karena berpapasan dengan wartawan secara kebetulan.

Pemerintah tak bisa menyelesaikannya sendirian. Masyarakat sudah dewasa untuk diajak bersama-sama mencegah kerusakan. Tak cuma pemerintah dan warga Wonogiri,  warga Klaten yang Kali Dengkeng-nya juga menyumbang volume air bengawan harus pula dilibatkan. Begitu seterusnya, termasuk Sukoharjo, Surakarta, Karanganyar dan Sragen. Kasihan kalau masih terus ada  warga yang kesusahan lantaran banjir yang pantas disebut musiman.

Lebih kasihan lagi ratusan ribu warga Bojonegoro, dimana menjadi ujung Bengawan Solo sebelum bertemu Laut Jawa.  Bisa diibaratkan, 10 bulan mereka mengumpulkan nafkah dan harta benda, namun ludes disapu air luapan Bengawan Solo. Praktis, dua bulan sisanya menjadi masa-masa yang mengenaskan. Sekeras apapun teriakan mereka, ettap saja tergantung dari apa yang terjadi di kawasan eks-Karesidenan Surakarta.

Mari kita sudahi berandai-andai. Mari kita galakkan perbaikan lingkungan demi masa depan yang indah, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Dan, sebelum lupa, jangan sekali-kali melupakan persiapan penanganan bencana dan korbannya. Untuk itu, pemerintahlah yang -sekali lagi- harus tampil tegak di depan. Memberi teladan…..

Posted in Asal Usil | 1 Comment »

Menanti Pasar Cinderamata

Posted by Keliling Surakarta on Januari 6th, 2009

Tak lama lagi, bakal ada pasar khusus cinderamata alias produk-produk kerajinan di Kota Surakarta. Tepatnya di sepanjang Jl. Diponegoro, seberang pintu gerbang Pura Mangkunegaran. Rencananya, pasar itu akan dikenalkan kepada public sebagai night market. Pasar yang dibuka hanya pada malam hari, bukan pasar malam yang diramaikan dengan komidi putar atau tong setan.

Suasana Jalan Sekitar Pasar Triwindu

Bagi Anda yang kemarin mudik Natalan atau liburan, mungkin kaget melihat kiri-kanan jalan sekitar Pasar Triwindu terbebas kemacetan akibat padatnya parkiran di depan kios-kios elektronik. Jalanan menjadi lancar dilalui. Mungkin kaget dan mengira ada program ‘sapu bersih’ bagi para pedagang di sana.

Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Pemerintah sedang menata kawasan Triwindu menjadi lokasi jalan-jalan yang menyenangkan, seperti Malioboro di Yogyakarta, meski saya yakin tak bakal dibiarkan sedemikian semrawut. Pasar itu juga untuk memenuhi kebutuhan para pelancong –entah dengan alasan bisnis, pakansi atau sekadar nengok teman kencan, akan buah tangan khas Surakarta yang bisa dibawa pulang untuk keluarga, sahabat dan kerabat.

Operasi pembersihan itu juga menjadikan Jl. Diponegoro kian luas, setidaknya lebih lebar empat meter dari sebelumnya. Dari arah perempatan Pasar Pon, lansekap Pura Mangkunegaran juga bakal tampak menonjol. Dan, Pamedan akan tampak lebih berdaya sebelum mata tertuju ke pendapa utama peninggalan Pangeran Sambernyawa itu.

Kata Pak Jokowi, sang walikota, night market itu untuk melengkapi keberadaan Gladag Langen Bogan (Galabo), yakni arena khusus bagi pengelana rasa atau penggembala lidah manja. “Kalau kebutuhan perut dan rasa telah dipenuhi, kenapa wisatawan tak diajak berbelanja cinderamata,” begitu katanya.

Tikungan Mangkunegaran

Ada cerita begini dari Pak Walikota. Kalau dulu pedagang dibujuk mengisi gerobak kuliner di Galabo dengan komposisi 60:30:10 bagi pengusaha makanan yang beken : setengah beken : dan pendatang baru, di night market justru akan dibalik. Pemilik brand hanya sekitar 10 persen, 30 persen lainnya perajin yang sedang naik daun dan selebihnya bagi pemain-pemain baru.

Kemana pedagang lama, penghuni kios-kios di sepanjang jalan itu? Rupanya, mereka tak dibuang begitu saja. Dan mereka tak merasa sedang digusur pemerintah, sebab kini juga sudah dibuatkan bangunan permanen mirip mal di belakang kios lama mereka. Jadi, ayam goreng Malioboro atau Denai, warung masakan Padang yang ada di ujung jalan pun tidak hilang dari orbit mereka.

Saran saya, menabunglah mulai sekarang. Mungkin, pertengahan tahun ini Anda harus memenuhi nafsu Anda menyimpan pernik-pernik khas Surakarta sembari mengantar liburan anak-anak sambil menenggok eyang, paklik/bulik, pakdhe/budhe atau sobat lama Anda. Bagi pemudik lebaran atau Natalan, tenanglah. Waktu masih panjang………


Posted in Suasana Kota | 5 Comments »

Ayo Piknik ke Balekambang

Posted by Keliling Surakarta on Januari 4th, 2009

Gala Dinner

Setahun terakhir, warga Kota Surakarta memperoleh ‘tempat bermain’ baru di Balekambang. Ya, Taman Balekambang namanya. Ia menyusul citywalk dengan taman-taman asri di sepanjang Jl. Slamet Riyadi, dari Purwosari hingga Gladag, atau taman serupa di sekitar Stadion Manahan. Pada hari libur, para orang tua suka membawa anak-anak dan keluarga mereka ke sana. Riuh, tapi riang.

Di taman-taman itu, kini banyak remaja bercengkerama, pada sore atau malam hari. Kecuali di Manahan, sebagian dari mereka asyik berselancar di dunia maya, karena Pemerintah Kota dan Telkom telah berbaik hati mengumbar bandwith Speedy.

Balekambang, yang konon berasal dari gabungan kata bale (Jw. Balai) dan kambang (Jw. Mengapung) menunjuk pada keberadaan sebuah balai di atas telaga kecil. Begitu sederhananya orang Jawa dalam membuat istilah baru, dengan cara sangat praktis, yang penting mempermudah pelafalan. Karena balai mengapung yang terletak di antara pepohonan besar nan rindang, lalu disempurnakanlah ia menjadi taman.

Dibangun pada 1921 oleh KGPAA Mangkunagara VII, taman itu lantas dinamai Partini Tuin, sebuah taman untuk mengabadikan putrinya tercinta yang bernama Partini. Tak cuma untuk bercengkerama pada siang hari, di sana juga menjadi ruang publik dalam arti sesungguhnya. Aneka kesenian tradisional, termasuk tarian dan ketoprak sering digelar di sana.

Balekambang Dulu

Jejaknya sebagai ruang publik terus bertahan. Keluarga Seniman Muda Surakarta berusaha menghidupkan kembali Balekambang lewat panggung ketoprak, namun gagal. Publik lebih berselera menonton sinema elektronik di televisi yang kian menjamur pada 1990-an daripada ketoprak yang dianggap jadul. Padahal, di tempat yang sama, nama Srimulat berkibar tinggi, hingga mencuatkan nama-nama pelawak seperti Gepeng, Pete, dan Jujuk, sebelum akhirnya juga menyerah pada takdir.

Masa kelam Balekambang adalah justru terjadi sepeninggal Srimulat. Dunia gemerlap lebih disukai (seperti banyak dijumpai pada tayangan televisi), sehingga diskotiklah yang lantas memberi warna Balekambang sebagai ‘ruang publik’. Tiap malam, puluhan Pi-aR, sebutan untuk perempuan penghibur yang bekerja secara freelance alias tak menginduk pada nama besar germo, berkeliaran di seputar Balekambang.

Mereka berbaur dengan perempuan-perempuan menor yang dikenal dengan sebutan rendan (akronim dari kere dandan), yang kebanyakan lantas ‘mojok’ di bawah pepohonan besar di sekitar panti pijat yang menawarkan solusi kebugaran semu.

Untung, semua itu sudah menjadi cerita masa lalu. Kini, Balekambang benar-benar menjadi sebuah taman yang asri. Nyaris mirip Kebun Bogor, meski berbeda pada beberapa hal, seperti luasnya atau tiadanya istana negara. Tiga rusa sudah didatangkan untuk meramaikan Balekambang, yang kelak bakal dikembangkan menjadi taman botani. Banyak pepohonan aneh, eh langka mulai ditanam di sana, sumbangan dari sejumlah pejabat negara, tokoh publik hingga sejumlah pejabat diplomatik negara sahabat. Sebuah teater terbuka juga sudah dibangun, bersebelahan dengan gedung baru untuk pentas ketoprak, kelak.

Taman Balekambang

Pokoknya, Taman Balekambang kini benar-benar indah, nyaman untuk rekreasi keluarga. Untuk menikmatinya, semua digratiskan kecuali parkir yang dikelola oleh sejumlah anak-anak muda, yang tampaknya bukan ‘wakil’ aparatur Pemerintah Kota Surakarta.

Yang perlu dijadikan catatan dalam ingatan kita hanyalah bagaimana turut merawat Balekambang agar tetap asri dan nyaman. Jangan membuang sampah sembarangan, syukur mau menyumbang bibit tanaman. Asal tahu saja, areal di sekitar taman sengaja dijadikan sebagai daerah resapan, agar air yang kian mahal, tak langka dari Surakarta.

Posted in Suasana Kota | 19 Comments »

Berburu Barang Antik di Triwindu

Posted by Keliling Surakarta on Mei 20th, 2008

triwindu_6408.jpg

Kalau Juni mendatang Anda menjumpai Pasar Triwindu yang lengang, jangan buru-buru menuduh pemerintah sedang menggusur pedagang. Atau menganggap para pedagang sedang melakukan aksi boikot. Mungkin, mereka sudah bergeser ke utara, menempati kios sementara di lapangan kompleks Pura Mangkunegaran.

Ya, di sanalah para pedagang akan ‘hinggap’ sejenak lantaran pasar benda-benda antik itu sedang dibongkar. Rencananya, akan dibuat bangunan baru terdiri dua lantai dengan sejumlah sarana pendukung kenyamanan wisata belanja. Di tengah pasar, nantinya akan ada ruang terbuka, sehingga pengunjung tak lekas berlalu begitu saja.

Menimbang apa yang sudah dilihat, perlu dilakukan dalam suasana rileks. Memilih barang mesti teliti, tak bisa asal comot. Kualitas sama bisa saja ditawarkan dengan harga berbeda di masing-masing kios. Nah, rasa penat yang bakal muncul setelah menyusuri kios-kios itulah yang direspon pemerintah dengan rencana penyediaan tempat istirahat. Menarik, bukan?

Asal tahu saja, kualitas barang apalagi yang termasuk kategori antik, tak bisa dilihat serampangan. Bagus secara visual bisa mengecoh Anda. Terlalu banyak ahli repro(duksi) di sekitar Surakarta. Bahkan, citra visual bisa dikelabuhi dengan aneka cara. Ada yang menggunakan bahan kimia. Ada pula yang memakai cara ‘klasik’ agar barang tampak jadul, yakni dengan merendam di sungai lalu menjemurnya dalam waktu lama, atau sengaja mengubur ke dalam tanah.

triwindu_6402.jpg

Oh, ya. Hampir saya terlupa. Di Triwindu, Anda bisa berbelanja aneka rupa. Berbagai jenis kaca warna-warni, cocok diborong untuk menghias ruangan. Barangkali saja, cocok untuk bar kecil-kecilan di rumah. Lukisan kaca, dari yang benar-benar kuno dan repro yang tampak jadul pun tersedia di sana. Hanya saja, selisih harga bisa beratus-ratus kali lipat.

Berbagai jenis dan ukuran gagang pintu, engsel, paku payung berusia ratusan tahun pun bisa diperoleh di sana. Mata uang rupiah semasa awal republik pun bisa diperoleh, bahkan hingga pecahan rupiah terkecil. Biasanya, pecahan rupiah ini diburu para calon pengantin yang menginginkan maskawin kombinasi nominal rupiah.

Karena pasar barang antik, soal harga tentu sangat bervariasi. Walau ngebet, sebaiknya jangan tampak pada ekspresi wajah. Melik nggendhong lali, hasrat membawa lupa (daratan)! Kalau sampai ketahuan, maka bola di tangan pedagang. Anda bisa menyesal merasa kemahalan. Hati-hati, teliti sebelum membeli!  Begitu petuah lama, yang bahkan pernah dipopulerkan oleh TVRI semasa masih berjaya dengan sesi iklannya pada kurun 1980-an.

Kendati begitu, jangan buru-buru menganggap pedagang barang antik sebagai penipu. Anggap saja, para pedagang sedang menjalankan tugas kenabian mereka: menakar kadar kegigihan usaha, sekaligus menguji tingkat kehati-hatian Anda.

triwindu_6413.jpg

Meski ada satu-dua pedagang yang kuatir bangunan baru tak senyaman dahulu, mayoritas masih menyambut baik gagasan penataan pasar tradisional yang kini dinamai Pasar Windu Jenar itu. Entah bakal populer atau tidak, nama baru itu memang terasa susah diucap dan diingat.

Mungkin, karena Triwindu sudah berusia 76 tahun, sehingga namanya sudah menghunjam dalam hati hingga dua-tiga generasi. Tepat seabad tonggak perjuangan terorganisir ditancapkan dr. Wahidin dan kawan-kawan ramai diperingati, Triwindu pun dibenahi.

Sekadar mengingatkan saja, nama Triwindu diabadikan untuk mengenang pertemuan para tokoh pergerakan nasional di Surakarta pada 1938, atau tiga windu gerakan Boedi Oetomo. Tak cuma Pasar Triwindu, kenangan pergerakan itu juga diabadikan dengan keberadaan Tugu Lilin atau Monumen Kebangkitan Nasional di Penumping.

Posted in Belanja | 15 Comments »

Meriahnya Karnaval Batik

Posted by Keliling Surakarta on April 17th, 2008

blog3.jpg

Untuk pertama kalinya, sebuah karnaval besar berlangsung meriah di Surakarta. Tak hanya rapi, suasana agung sangat terasa selama fashion on the street berlangsung sejak selepas tengah hari hingga petang. Ratusan peserta, sebagian besar di antaranya para model Jember Fashion Carnival (JFC), benar-benar menyemarakkan Solo Batik Carnival 2008.

Semoga, fashion show ala Fashion TV itu bisa menjadi kalender peristiwa yang mendatangkan daya tarik pelancong, entah tahunan atau dua tahun sekali. Walikota Joko Widodo, pun menginginkan peristiwa semacam itu rutin berulang, sehingga roda perekonomian rakyat kian kencang berputar.

Masalahnya, seberapa kuat pemerintah daerah mampu menjaga keajegan acara? Kali ini saja, pembiayaan ditanggung sebuah perusahaan yang sedang membangun apartemen di pusat kota. Kabarnya, tahun depan akan membiayai kegiatan serupa, bahkan sudah menetapkan tanggalnya, pada 12 April.

blog_2.jpg

“Demi memajukan pariwisata Surakarta, kami akan support habis-habisan, khususnya untuk promosinya,” kata Walikota saat gala dinner di Pura Mangkunegaran, Sabtu (12/4) malam. Kata Pak Jokowi, pihaknya sudah mendata semua potensi ‘jualan kota’ seperti kekayaan seni-budaya, kerajinan dan peninggalan bersejarah.

Meski karnaval pertama didominasi arek-arek Jember, namun kerja keras mereka perlu diacungi jempol. Adalah Dynand Fariz, Presiden JFC yang habis-habisan menyeleksi peserta, baik lewat audisi maupun workshop. Sehingga, penampilan ratusan peserta lokal yang terdiri dari pelajar/mahasiswa, pelaku usaha batik dan instansi pemerintah, tak terasa timpang, dibanding penampilan para model JFC.

Satu yang menarik, JFC yang merangkap sebagai event organizer telah memberi pelajaran berharga bagi pemerintah dan warga Surakarta. Kegiatan semacam itu tak perlu harus ditangani EO lokal, bila memang tak ada organisasi yang mampu.

blog.jpg

Semoga, karnaval tahun mendatang lebih bagus dan berbeda dari yang baru saja berlalu. Sehingga, orang tak cepat bosan. Dan masih mau datang kembali, sambil mengajak kerabat, sahabat dan handai-taulan.

Posted in Suasana Kota | 11 Comments »

Tarian Serba Tradisi di Malem Nemlikuran

Posted by Keliling Surakarta on Februari 26th, 2008

Bila Anda menyukai tari-tarian tradisi, SMKI (kini SMK Negeri 8 ) Surakarta adalah tempat yang tepat dikunjungi. Pada tanggal 26 malam setiap bulannya, beragam jenis tari dipanggungkan di pendapa sekolah itu. Mbak Retno Maruti, penari istana semasa Bung Karno, juga pernah mengisi forum bulanan ini.

golek_montro

Selain Mbak Utik, sapaan akrab Retno Maruti, puluhan artis pernah nguri-uri keberadaan forum itu. Mulai para maestro, mantan penari bedaya Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran hingga mahasiswa/mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan murid-murid SMK Negeri 8 sendiri.

Biasanya, dalam satu peristiwa ditampilkan dua-tiga tarian dari generasi berbeda. Karena itu, penonton dan penikmat dimudahkan dalam mengapresiasi. Kendati bukan pertandingan, tapi boleh-boleh saja membandingkan. Beda orang, beda jam terbang, maka beda pula kemampuan.

Semula, forum bernama resmi Beksan Malem Nemlikuran itu dimaksudkan sebagai ajang kumpul-kumpul para alumnus sekolah seni yang dulunya bernama Konservatori tersebut. Diprakarsai sejumlah penari yang kini di mengajar di Sala, seperti Mas Daryo, Mas Wahyu, Mas Bambang dan lain-lain, forum reun tersebut akan merayakan ulang tahunnya yang keempat, Maret mendatang.

lengger

Semula (lagi), pemilihan artis penampil hanya dikhususkan kepada mereka yang concern pada tari-tarian Jawa, khususnya gaya Surakarta. Tak ada sistem kuratorial yang kaku, bukan pula menggunakan pola undian arisan. Siapa yang siap karya bisa saja mengajukan diri dan memilih bulan tampilnya sendiri.

Syaratnya gampang saja, artis mesti siap menanggung biaya sendiri. Panitia tidak menyumbang, apalagi honor. Hanya panggung berikut tata suara dan tata cahaya plus kursi bagi pengunjung yang disediakan. Konsumsi pun diadakan dengan pola saweran atau serkileran menurut kosakata seniman Sala. Guyub. Kompak.

Karena forum itu ‘hidup’, para pemrakarsa lantas meluaskan coverage area-nya. Tak cuma yang berbau Jawa (Surakarta dan Yogyakarta),  beragam tarian khas atau tradisi daerah atau suku apapun mulai diperkenalkan.

“Kami ingin forum ini menjadi ajang apresiasi kekayaan khazanah tari tradisi dari seluruh Indonesia,” ujar Bambang Suhendro, salah satu pengampu jurusan tari SMK itu.

ludiraMADU

Niat mulia para ‘penari tua’ itu, tentu tak bijak diabaikan. Kabarkan kepada teman, kerabat dan kolega Anda, agar menyempatkan menonton ke kompleks sekolahan yang terletak di Kampung Kepatihan itu. Kira-kira 400 meter dari Pasar Gede arah Jebres, Anda akan menjumpai kantor Bank BCA di kiri jalan. Nah, SMK 8 berada 100 meter di belakang bank itu. Sekadar mengingatkan, khusus bulan ini, forum terpaksa ditiadakan.

Menurut Mas Daryo, ketua forum itu, “Para seniman sedang sibuk dengan tugas-tugas profesinya di kampus. ” Sayang.

Posted in Klangenan | 14 Comments »