Keliling Surakarta

Kami antar Anda menelusuri sisi Surakarta hingga yang terdalam

Archive for Februari, 2008

Tarian Serba Tradisi di Malem Nemlikuran

Posted by Keliling Surakarta on 26th Februari 2008

Bila Anda menyukai tari-tarian tradisi, SMKI (kini SMK Negeri 8 ) Surakarta adalah tempat yang tepat dikunjungi. Pada tanggal 26 malam setiap bulannya, beragam jenis tari dipanggungkan di pendapa sekolah itu. Mbak Retno Maruti, penari istana semasa Bung Karno, juga pernah mengisi forum bulanan ini.

golek_montro 

Selain Mbak Utik –sapaan akrab Retno Maruti, puluhan artis pernah nguri-uri keberadaan forum itu. Mulai para maestro, mantan penari bedaya Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran hingga mahasiswa/mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan murid-murid SMK Negeri 8 sendiri. 

Biasanya, dalam satu peristiwa ditampilkan dua-tiga tarian dari generasi berbeda. Karena itu, penonton dan penikmat dimudahkan dalam mengapresiasi. Kendati bukan pertandingan, tapi boleh-boleh saja membandingkan. Beda orang, beda jam terbang, maka beda pula kemampuan. 

Semula, forum bernama resmi Beksan Malem Nemlikuran itu dimaksudkan sebagai ajang kumpul-kumpul para alumnus sekolah seni yang dulunya bernama Konservatori tersebut. Diprakarsai sejumlah penari yang kini di mengajar di Sala, seperti Mas Daryo, Mas Wahyu, Mas Bambang dan lain-lain, forum ‘reuni’ tersebut akan merayakan ulang tahunnya yang keempat, Maret mendatang.

lengger 

Semula (lagi), pemilihan artis penampil hanya dikhususkan kepada mereka yang concern pada tari-tarian Jawa, khususnya gaya Surakarta. Tak ada sistem kuratorial yang kaku, bukan pula menggunakan pola undian arisan. Siapa yang siap karya bisa saja mengajukan diri dan memilih bulan tampilnya sendiri. 

Syaratnya gampang saja, artis mesti siap menanggung biaya sendiri. Panitia tidak menyumbang, apalagi honor. Hanya panggung berikut tata suara dan tata cahaya plus kursi bagi pengunjung yang disediakan. Konsumsi pun diadakan dengan pola saweran atau serkileran menurut kosakata seniman Sala. Guyub. Kompak. 

Karena forum itu ‘hidup’, para pemrakarsa lantas meluaskan ‘coverage area’-nya. Tak cuma yang berbau Jawa (Surakarta dan Yogyakarta),  beragam tarian khas atau tradisi daerah atau suku apapun mulai diperkenalkan.

 “Kami ingin forum ini menjadi ajang apresiasi kekayaan khazanah tari tradisi dari seluruh Indonesia,” ujar Bambang Suhendro, salah satu pengampu jurusan tari SMK itu.

ludiraMADU  

Niat mulia para ‘penari tua’ itu, tentu tak bijak diabaikan. Kabarkan kepada teman, kerabat dan kolega Anda, agar menyempatkan menonton ke kompleks sekolahan yang terletak di Kampung Kepatihan itu. Kira-kira 400 meter dari Pasar Gede arah Jebres, Anda akan menjumpai kantor Bank BCA di kiri jalan. Nah, SMK 8 berada 100 meter di belakang bank itu. Sekadar mengingatkan, khusus bulan ini, forum terpaksa ditiadakan.

Menurut Mas Daryo, ketua forum itu, “Para seniman sedang sibuk dengan tugas-tugas profesinya di kampus.” Sayang….   

Posted in Klangenan | 7 Comments »

Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukk…

Posted by Keliling Surakarta on 21st Februari 2008

Apa yang melintas di benak panjenengan semua saat mendengar kata Gladag? Pusat kacamata murah atau pasar keris dan cinderamata? Semoga Anda tidak melewatkan pusat buku bekasnya. Album-album jadul dalam bentuk piringan hitam dan pita suara juga terserak di lapak puluhan kios di sana.

  bukuloak

Buku langka banyak terdapat di pasar loak ini. Hanya saja, butuh ketelatenan untuk membalik-balik tumpukan. Koleksi akan bertambah bila sedang beruntung.  

Tak hanya buku-buku terbitan sebelum 1970-an, buku terbitan super jadul seperti 1930-an pun masih ada di sana. Ada yang berbahasa Jawa, Belanda, Inggris, meski tak sedikit pula yang berbahasa Indonesia.  

Karya-karya penulis legendaris seperti Lenin, Pramoedya Ananta Toer, Slamet Muljono masih mudah dijumpai. Juga, karya-karya penulis anonim yang umumnya pujangga-pujangga Kraton Surakarta. 

Hanya buku-buku berat? Tidak juga. Komik-komik Jepang terbitan Elex Media pun berserakan bersama buku-buku Ian Fleming dan Karl May. Harganya, cuma pada kisaran Rp 2.500-an hingga ceban.  

Yang mahal pun tak kalah banyak. Buku iklan terbitan masa kolonial, pun tersedia. Harganya ‘cuma’ Rp 1,5 juta. Buku koleksi filateli masa pendudukan Jepang dulu, pun tak sulit ditemukan. Untuk jenis beginian, biasanya tidak dipajang. 

Perlakuan yang sama terjadi pada buku atau majalah tentang etiket rokok dan cerutu –lokal maupun impor pada masa kolonial dan awal-awal berdirinya republik.loakPH 

Kalau Anda penikmat piringan hitam, Anda bisa memperpanjang daftar koleksi dengan harga Rp 20.000 per keping. Baik piringan hitam yang besar maupun yang berukuran lebih kecil. Untuk kaset berpita, harganya bervariasi antara Rp 3.500 hingga Rp 10.000 saja. Kata seorang pemilik kios yang mengkhususkan pada koleksi langka, seorang yang mengaku utusan majalah Rolling Stones memborong ratusan piringan hitam, khusus artis-artis Indonesia. 

Satu-satunya pengalaman yang menyebalkan, yakni ada saat saya ‘browsing’ ke pasar itu, sebulan lalu. Usai membalik-balik katalog peristiwa seni di beberapa kios, saya mendapati buku hitam yang menyebalkan. Judulnya: Ketika Kita Disapa. 

Katalog pameran fotografi dokumentasi seni pertunjukan itu dijual Rp 5.000-an. Jumlahnya banyak. Mungkin sekitar seratusan, karena setiap kios memiliki stok rata-rata 20-an buah. 

Ketika saya kehabisan buku katalog pameran saya sembilan tahun silam, saya justru menjumpainya di pasar loak. Padahal, saya membutuhkannya untuk lampiran proposal (rencana) pameran kedua saya. Kata seorang pemilik kios, mereka mendapatkannya dari pemulung yang menjualnya secara kiloan. Edan!

Posted in Belanja | 4 Comments »

Wedang Cemol

Posted by Keliling Surakarta on 20th Februari 2008

Wedang Cemol (lafal bunyinya seperti kata setor) merupakan salah satu jenis minuman khas Sala. Bak kosa kata, wedang ini masuk kategori arkais. Masih ada, tapi bukan pekerjaan gampang untuk dapat merasakannya.

Sekilas, rasa Wedang Cemol hampir mirip Wedang Rondhe atau Bajigur (kata orang Yogya). Sama-sama pedas karena berunsur jahe, namun beda penampilan karena isinya juga berbeda. Tak ada kolang-kaling seperti pada Wedang Rondhe, warna putih pada Wedang Cemol berupa kelapa muda.

wedang cemol

Wedang Cemol lumayan menyehatkan. Meneguknya segelas, sudah sanggup mengusir rasa dingin pagi, malam atau ketika hujan.

‘Ornamen’ Wedang Cemol terdiri dari kacang goreng sangrai, potongan roti tawar dan serutan kelapa muda. Manisnya pada wedang ini pun ramah karena berasal dari gula aren, bukan kristal sari tebu. Di Sala, wedang ‘arkais’ ini bisa ditemukan di restoran Hotel Roemahkoe di Jl. Rajiman, kawasan saudagar batik Laweyan.

Tak mahal, hanya Rp 9.500 untuk satu gelas, belum termasuk pajak. Wedang Cemol cocok bersanding dengan pisang goreng atau pisang owol untuk cemilan sambil ngobrol di hotel yang juga bekas rumah saudagar batik itu. Kalau Anda pernah membaca novel Canting-nya Arswendo Atmowiloto, rumah itu akan mengajak Anda bertamasya ke masa lalu.

Tanya PamanTyo kalau saya dianggap membual.

Posted in Lidah Manja | 6 Comments »

Tawaran Ciamik dari Amik

Posted by Keliling Surakarta on 19th Februari 2008

Tak hanya lidah, mata pun perlu dimanja. Syukur, sense of art Anda turut terjaga, meski harus dalam merogoh kocek untuk mengkoleksi beberapa. Tapi, tak ada salahnya bila selera seni yang Anda miliki justru memberi sinyal aksi borong. Bagai saham, tak menutup kemungkinan nilai barang yang saya hadirkan di sini akan terus meningkat. Bukankah harga tembaga di pasar internasional juga terus meningkat?

Ya, ijinkanlah kali ini, saya menceritakan perkenalan saya dengan Amik, seorang seniman tembaga. Dia muda, tapi sudah kenyang pengalaman. Selera seninya juga oke. Setidaknya, bila dilihat dari ketidaksukaannya pada konservatisme dalam berbisnis. Saat ratusan tetangganya menyukai produk massal dan hampir sama, ia memilih bereksperimen dengan menciptakan produk-produk yang berbeda.

tembaga_tumang1 

Saat jalan-jalan mencari bahan tulisan dan foto di sentra kerajinan tembaga, Desa Tumang, Kecamatan Cepogo di kaki Gunung Merbabu, saya hampir putus asa. Tak ada aktivitas produksi. Sejumlah ‘galeri’ juga tak memajang produk yang menarik hati. Keputusan pulang pun sudah nyaris bulat sebelum istri saya mengajak singgah di sebuah rumah yang memajang dagangan agak ‘beda’. 

Saya sebut beda, karena galeri yang satu ini, meski berdebu tapi penataannya cukup rapi meski terkesan waton cemanthel, asal bisa memenuhi rak dan dinding.  

Oleh penjaga showroom, kami dibawa ke ‘galeri’ yang lebih besar, sekitar 50 meter dari tempat pertama. Di tempat kedua, saya disambut oleh beraneka benda yang terasa hidup. Vas bunga menyapa saya dari kejauhan. Beberapa tempat lilin juga menggoda, seolah mengedipkan mata berulang-ulang.

tembaga_tumang2 

Mengamati beberapa produk yang dipajang, saya penasaran. Feeling saya menuntun pada kecurigaan. Tak mungkin kap lampu, tempat lilin, penjepit tisu dan lampu-lampu taman itu bisa sedemikian hidup. “Pastilah Amik seorang pematung,” kata saya dalam hati. 

Baru sehari kemudian saya beroleh jawaban. Dari gagang telepon di seberang, Amik mengaku hanya setahun mengenyam pendidikan sekolah menengah seni rupa di Sala. Ia lalu bekerja sekaligus nyantrik pada seniman patung di Yogyakarta sebelum melakukan hal serupa di Kudus. “Saya belajar seni patung dari mereka,” ujar Amik. Ia menyebut dua nama, tapi saya lupa. Maklum, daya ingat menurun seturut usia yang kian menua. 

Di galeri milik Amik, saya jamin Anda tak bakal kecewa. Dengan duit Rp 50 ribu saja, asbak unik bisa dibawa. Sedang vas bunga dibanderol pada kisaran seratusan ribu saja. Paling mahal, bahkan cuma dua jutaan. Itu pun bisa berupa benda bernilai tinggi, baik untuk menghias taman atau ruangan di rumah Anda. Yang pasti, Anda tak sanggup mengangkat sendirian untuk benda seharga dua jutaan tadi. 

Beberapa ragam bentuk vas bunga, misalnya, bisa dibeli satu set sekalian. Biasanya terdiri tiga barang yang sama dengan ukuran berbeda-beda. Nah, terhadap vas-vas bunga itu, Anda bisa memperlakukannya sebagai patung pojok ruang tamu. Dengan menata berjajar tanpa bunga di atasnya, jadilah ia patung sungguhan. Kalau bosan, tinggal memisahkannya ke beberapa sudut atau lokasi berbeda. Tinggal memasukkan bunga ke dalamnya, bereslah persoalan. 

Saran saya, kunjungi galeri itu bila Anda sedang travelling ke Sala. Hanya sekitar 40 menit perjalanan dengan mobil, Desa Tumang sudah dijelang. Dengan nambah waktu 30 menit saja, bisa dinikmati panorama gunung Merapi dan lembah-lembahnya yang hijau dari Selo Pass. Di Selo, ada jadah bakar yang enak. Juga sate kambing empuk dan lezat, kira-kira 100 meter arah barat Polsek Selo.

Posted in Belanja | 2 Comments »

Selamat Ulang Tahun, Surakarta…

Posted by Keliling Surakarta on 17th Februari 2008

Memasuki usianya yang ke-263, Surakarta hampir kelar berbenah. Kota kian nyaman. Trotoar makin hijau, taman juga bertebaran di hampir seluruh penjuru kota. Pedagang kakilima pun tak lagi jadi klilip.

upacara_sala

Citywalk, kawasan bagi pejalan kaki sudah dibangun mulai Purwosari dan akan bermuara ke kompleks Beteng Vastenburg, kawasan baru sebagai pusat jajanan di Sala. Sejumlah pedagang makanan yang selama ini jadi ikon menu-menu unggulan, rencananya juga akan membuka cabang di sana.

Kelak, di sisi selatan sepanjang Jl. Slamet Riyadi, orang akan menyaksikan sejumlah pusat nongkrong yang nyaman. Di bawah rimbun pepohonan, akan dijumpai orang-orang nge-net dengan fasilitas hotspot yang bakal disediakan oleh Pemerintah Kota, sambil menyantap aneka jenis makanan dari gerobak-gerobak yang digratiskan untuk pedagang kakilima.

citywalk

Menandai ulang tahun yang jatuh pada Minggu, 17 Pebruari, walikota mengumumkan pemakaian aksara Jawa untuk melengkapi papan nama. Baik papan nama jalan, mal, pertokoan, hotel, restoran, juga kantor-kantor swasta.

Yang pasti, Sala akan menjadi daerah tujuan wisata yang menarik. Setiap pendatang, akan pergi membawa serta sejumlah kenangan. Kelak, kaum pebisnis akan betah berlama-lama dan membelanjakan uangnya, tidak sebatas pada aneka ‘jajanan malam’ yang memang berserak di seluruh sudut kota.

Taman Balekambang, kini tinggal menunggu penyelesaian pembangunan tahap akhirnya. Yang dulu kumuh, kini berubah jadi taman kota yang mengasyikkan. Teater terbuka juga sudah tersedia, berjarak sepelemparan batu dengan gedung ketoprak yang turut dibarukan.

reksapraja

Jangan ragu, tamasya ke Sala akan nyaman. Pemerintah Kota sudah membuat ‘pasukan khusus’ yang bakal mendampingi pengunjung, khususnya pada saat berlangsung event-event udaya. ‘Pasukan’ Reksa Praja beranggotakan 120-an orang disiapkan dengan kostum ala prajurit kerajaan. Kelak, mereka akan dilatih supaya fasih berbahasa Inggris pula.

Selamat ulang tahun, Sala….. Eh, Surakarta.

Posted in Suasana Kota | 7 Comments »

Lezatnya Kuetiau Pak Yono

Posted by Keliling Surakarta on 12th Februari 2008

Belum lama saya mengenal lezatnya kuetiau. Kalau saja istri saya tak memaksa, mungkin selamanya lidah saya tak punya pengalaman mengecapnya, apalagi kuetiau goreng seafood bikinan Pak Yono. Sedari dulu, yang menggoda saya rajin bertandang hanyalah sop ayam. Suegerrr tenan……! 

kwetiauw2 

Sop (lidah Jawa telanjur biasa mengucap sup) ayam Pak Yono terletak di  sebelah kiri Hotel Malkana (kini bernama Grand Orchid), Jalan Gajahmada. Orang pertama yang memperkenalkan itu bernama Happy, praktisi bisnis teknologi informasi. Saat babat alas menghadirkan akses internet di Sala, belasan tahun silam, dia sering mengajak saya makan di warung itu. Biasanya tengah malam, atau menjelang pagi. 

Selain sop, saya berkenalan pula dengan ayam goreng tepung. Gurih, kriuk-kriuk. Saya biasa menyantapnya dengan sambal kecap secolek, yang biasa disertakan sebagai variasi sop ayam atau kuetiau. 

Kalau saja Anda sedang menginap di Orchid atau Novotel, jangan ragu singgah di warung kakilima ini. Gengsi sebaiknya dibuang bila masih sayang pada lidah sendiri. Tak perlu dalam merogoh saku, dijamin beroleh beragam menu ala China yang lumayan lezat. Ada mi goreng, cah kangkung dan belasan varian masakan mi lainnya.

Bestik daging sapinya juga yahud, tak kalah dengan sajian Harjo Bestik. 

Saya tambahkan kata ‘lumayan’ karena kokinya sudah bukan lagi Pak Yono. Beliau ‘pensiun’ sejak setahun silam, dan digantikan anaknya, yang (saya tahu) sudah bertahun-tahun magang ‘asisten’. Karena itu, nyaris tak ada selisih rasa di antara keduanya. 

Warungnya tak seberapa luas. Bangku yang ada hanya cukup untuk sekitar 11 orang. Meski jarang menjumpai antrian, tapi yakinlah itu bukan pertanda warung itu tak laku. Bagi para pelanggan, rata-rata sudah saling ‘kenal wajah’ meski tak pernah saling tahu nama masing-masing.  

Posted in Lidah Manja | 11 Comments »

Ceker itu Enak, Jenderal!

Posted by Keliling Surakarta on 11th Februari 2008

Ceker adalah cakar, sebutan untuk kaki unggas. Bagian tubuh unggas terbawah ini naik daun seiring popularitas Gudeg Margoyudan, tepatnya di Jl. Monginsidi, timur proliman (simpang lima) Banjarsari.  

Meski jualan aslinya nasi gudeg dan bubur sambal goreng, namun publik luas memberi julukan Gudeg Ceker. Mungkin lantaran banyak orang melihat kaki ayam laris manis di situ.  

cekergudeg 

Tenda warung baru dibentangkan setelah pukul 1 dinihari, pengunjung tetap saja mengantri. Pada jam-jam awal, kebanyakan diramaikan oleh kehadiran sekelompok orang sekeluarga atau bersama rekan dan kenalan.  

Namun, dua jam sejak dibuka hingga subuh, seiring dengan mulai tutupnya tempat-tempat hiburan malam, karakteristik pengunjung pun berganti. Kali ini, giliran pengelana malam mendominasi. Stamina harus dijaga, perut tak boleh berbunyi seperti suasana di rumah-rumah musik dan kamar-kamar karaoke. 

Kelompok lain, yakni orang kebanyakan pun mulai berdatangan sekitar pukul 5. Ada yang sengaja membeli menu sarapan pagi, ada pula yang santap di tempat setelah lelah berolah raga. Yang jelas, semua lapisan masyarakat ada dalam daftar pelanggan. 

Gus Dur, misalnya, termasuk orang yang selalu minta diantar jajan di warung itu setiap singgah di Sala. Sedang pada hari terang, mantan presiden itu memilih rumah makan Adem Ayem untuk makan bersama komunitasnya. 

Saya punya pengalaman khusus di warung itu. Belasan tahun silam, bersama teman main saya: Wisnu dan Rudi, kami sedang asyik makan ketika serombongan kecil tiba sesaat setelah kami. Rupanya, mereka pejabat Departemen Penerangan bersama sejumlah pejabat lokal dan propinsi. 

Rudi, teman saya yang agak urakan langsung menyapa. “Lho, Pak, kok di sini. Kok tidak naik gajah?” 

Orang yang disapa tersenyum. Lalu terjadilah dialog sambil cengengesan antara kami dengan lelaki paruh baya itu. Saya diam karena sudah masuk wilayah sepakbola, cabang olahraga yang tak kumengerti itu. Wisnu dan Rudilah yang banyak ngobrol dengan lelaki itu.  

Sambil mengingat-ingat, sampailah pada memori lamaku. Dialah IGK Manila, pensiunan jenderal tentara yang ngurusi olahraga dan nyangkut di Departemen Penerangan. Di tengah perbincangan, Pak Manila menanyakan siapa kami. Rudi menyergah tangkas, ”mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Pak!”

Saya tertawa kecil. Mestinya, kami sudah tak pantas mengaku mahasiswa. Status itu sudah kadaluwarsa setahun. Pak Manila membayar semua makanan kami.

Saat pamit pergi, ia menggamit Rudi. “Ini!” kata Pak Manila. 

Kepada kami, Rudi pamer lembaran biru bergambar Soeharto. Lalu, masuklah babak berikutnya, yakni cara membagi duit lima pulur ribu itu untuk bertiga. 

Pasare bubar, kerene gelut! (meminjam kalimat pelawak Junaedi)

Posted in Lidah Manja | 6 Comments »

Suasana Baru Tirtonadi

Posted by Keliling Surakarta on 11th Februari 2008

Surakarta terus berbenah. Terminal Tirtonadi juga kian ramah. Tak seperti kebanyakan terminal bus di berbagai kota, lingkungan Tirtonadi kian padhang. Bukan semata terang oleh gemerlap lampu, tapi juga padhang lantaran tak ada preman dan perempuan malam berkeliaran.

Di dalam terminal, pengasong dan pengamen terus ditertibkan sejak beberapa tahun terakhir. Turun dari bus malam pada tengah malam, pun kian nyaman. Tak perlu takut atau cemas diganggu orang-orang berniat merampas. 

tirtonadi 

Ijinkan, saya mengajak Anda memberikan apresiasi yang sepadan kepada Walikota Joko Widodo. Cita-citanya mewujudkan Sala sebagai kota dagang dan pelesiran yang nyaman, terus diupayakan. Taman kota terus bermunculan. Tak hanya di jalan-jalan protokol, di daerah pinggiran dan perkampungan pun, kini banyak ruang-ruang hijau. 

Simak saja bagaimana ia menata terminal sejak setahunan silam. Di seberang terminal, sebuah taman kota sudah selesai ditata. Tinggal menunggu pohon-pohon palem menghijau, juga rumput dan taman bunga. Pada sore dan malam, kini ramai dikunjungi warga. 

Penerangan ditata sedemikian rupa, sehingga bangku-bangku beton nyaris terisi manusia menikmati pemandangan. Bantaran yang dulu kumuh oleh bedeng-bedeng liar, kini bersih total. Taksi resmi, taksi gelap dan ojek dipindahkan lokasi mangkalnya. 

Rencananya, sungai di samping taman juga akan ditata. ‘Pulau-pulau’ yang kini rimbun oleh rerumputan liar akan dibersihkan. Kabarnya pula, akan segera didatangkan sejumlah perahu untuk wisata air. Sungai dengan dam kecil yang pada masa kolonial Belanda dulu pernah populer dengan sebutan Praon, rupanya akan dihidupkan kembali.

Praon, yakni tempat bersampan, kini hanya dikenali generasi kelahiran tujuhpuluhan pada jejaknya semata: menjadi nama kampung di utara kali. Bila obyek wisata air terwujud kelak, orang-orang tak akan lagi kesulitan mengingat asal-usul nama kampung di sana. Warga sekitar (juga para pelancong) bisa menikmati bersampan atau naik perahu kecil berputar-putar di kali selebar 50-an meter itu. 

Karena terobsesi menjadikan Sala sebagai kota tujuan pelesiran dan belanja seperti kota-kota di Singapura, ijinkan saya menyebut kawasan kali itu seperti River Point di Singapura. Bedanya, di Tirtonadi tak ada perahu-perahu pesiar yang bisa mengantar penumpangnya dari dermaga-dermaga yang menyatu dengan hotel. 

Asal tahu saja, di Sala, belum ada hotel berbintang yang sengaja didirikan di pinggir kali.

Posted in Suasana Kota | 3 Comments »

Sensasi Wedangan Sala

Posted by Keliling Surakarta on 9th Februari 2008

Sala memang disesaki beragam orang dengan selera aneh-aneh. Jangankan bara arang dicelupin ke dalam seduhan kopi, bubuk coklat yang diseduh dengan air jahe plus tape beras pun lazim dipesan pengunjung wedangan­ –sebutan untuk kedai kakilima yang menjual aneka jenis minuman panas dan dingin.

 Di Sala, kedai beginian populer disebut wedangan. Di tlatah Yogya, sebutannya lain lagi: angkringan atau warung koboi. Ciri khasnya sama, penjual menggunakan gerobak dorong. Sepertiga bagian digunakan untuk tungku penjerang air, sebagian lainnya untuk menggelar aneka penganan dan nasi bungkus yang mashur dengan sebutan sego kucing.

 kemin2

Umumnya, si penjual berposisi sebagai pusat. Ia dikelilingi pelanggan yang duduk di bangku panjang mengitari penjual pada dua atau tiga sisi gerobak yang berfungsi sebagai meja. Penjual, biasanya menyediakan sejumlah tikar, yang biasanya digelar di beberapa tempat di sekitarnya, sesuai selera pengunjung.

 Bagi yang ingin mojok karena ingin melewati malam bersama kekasih atau atas dasar ingin menjaga privacy, mereka bia memilih tempat yang agak kiwa atau menjauh dari pusat.

 Begitulah suasana wedangan. Orang datang dengan alasan dan agenda sendiri-sendiri. Transaksi jual-beli bisa dilakukan di tempat-tempat begini, pembicaraan politisi juga biasa dilangsungkan dalam suasana wedangan. Kadang, orang datang hanya sekadar mengisi perut lalu pulang. Ada pula yang betah tinggal semalaman, menenggak bergelas-gelas wedang.

 Di antara ratusan tempat wedangan yang berserak di seluruh penjuru dan sudut-sudut kampung, Wedangan Kemin di belakang Monumen Pers adalah tempat favorit saya. Pak Yo, generasi kedua wedangan itu baru setahun ‘diusir’ (konon dengan kompensasi Rp 5 juta) dari tempat lamanya, di seberang monumen. Tempat lama yang telah dipakainya puluhan tahun, kabarnya akan disulap menjadi gedung perpustakaan, mungkin pula untuk rumah dinas Wakil Walikota.

 Di Wedangan Kemin, saya menyukai teh kental bikinannya. Coklat-jahe-tape-nya juga oke. Nasi oseng-osengnya juga lezat, lumayan pedas. Enak disantap dengan lauk kikil pilihan, apalagi dibakar terlebih dahulu. Di sinilah, teman atau relasi dari luar kota biasa saya bawa. Biasanya mereka bilang senang. Ada sensasi lain, katanya.

 Kalau sudah lewat tengah malam dan agak sepi pengunjung, saya sering meminta Perry, ‘pilot’ becak yang kerap nyambi sebagai pramusaji, untuk memijat. Pulang nongkrong badan bugar. Bangun pun lebih segar. Hmmm…

 Selain Wedangan Kemin atau Pak Yo, wedangan Mas Muji di Jl. Honggowongso, Tipes juga merupakan tempat favorit penggemar begadang. Hanya saja, saya kurang sreg karena terlalu ramai pengunjung.

 Wedangan dengan sajian teh yang mantap juga bisa ditemukan di Jl. MT Haryono, tak jauh dari kantor PLN Gondang. Sego kucing-nya juga pulen. Enak. Oh ya, hampir lupa. Sego kucing adalah sebutan (tepatnya olok-olok) untuk nasi sekepal dengan sambal dan lauk sekerat ikan asin yang dibungkus. Mungkin pantasnya untuk ngasih makan kucing piaraan, kaleeee……

 Jika Anda penikmat teh, Anda harus mengingat satu hal, terutama jika memilih tempat wedangan secara acak. Jangan lupa menyebutkan takaran gula dan tingkat kekentalannya. Kebanyakan penjual dikenal royal untuk urusan gula. Dua sendok makan adalah takaran standar, sehingga bila diaduk akan menonjolkan rasa manis berlebihan.

 Kalau hanya memesan teh panas, bisa dipastikan kepada Anda akan disuguhkan teh manis, kecuali menyebutkan permintaan teh tawar (berkebalikan dengan di Jakarta atau Bandung, yang selalu diberikan teh tawar bila tak mengemukakan permintaan sejak awal).

 Berbeda dengan kebanyakan warung di Jakarta yang maunya serba praktis dengan teh celup, kebanyakan penjaja di Sala memiliki ramuan berbeda-beda. Biasanya, dua atau lebih merek teh dicampurkan untuk membuat formula khusus. Karena itu, rasanya akan berbeda di setiap wedangan. Mungkin, itu pula yang membuat orang selalu kangen menyeruput wedang teh di luar rumah.

Posted in Suasana Kota | 6 Comments »

Nge-Mie di Atas Kali

Posted by Keliling Surakarta on 9th Februari 2008

Nge-mie di atas Kali Pepe asyik juga. Belum sebanyak hitungan jari, memang. Tapi beberapa menu sudah saya coba, seperti mie bakso, bakso kuah, mie ayam, juga mie pangsit. Hampir semua menu terasa pas di lidah.

gajahmas_031 

Itulah mie Gajah Mas, yang membuka usahanya di sebuah bangunan sempit di atas Kali Pepe, tepat di ujung jembatan yang menghubungkan Balaikota dengan Pasar Gede. Pemiliknya mengklaim kehalalan semua menunya. Maka tak aneh, warung itu selalu dijejali pengunjung sejak buka jam 9 pagi hingga hampir jam 9 malam. 

Karena berjubelnya pelanggan, sampai trotoar bagi pejalan kaki di salah satu sisi jembatan pun dipenuhi payung peneduh dengan kursi-kursi mengitari meja bulat. 

Di warung ini, saya menyukai mie bakso dan mie ayam jamur. Sedang istri saya, menyukai hampir semuanya, terutama pangsitnya yang selalu dicari pelanggan. Suatu ketika, saya bersama teman makan bersama di sana. Belum sempat pesan, sang teman mendahului memesankan mie pangsit untuk saya. Karena tak terlalu suka, maka pangsit saya pinggirkan sementara mie tandas tak terlalu lama. 

gajahmas_2

“Kok, pangsitnya tidak dimakan, Mas,” tanya lelaki di samping saya. “Saya kurang suka, Pak,” sahut saya kepada lelaki yang datang bersama pasangannya itu. 

“Wah, sayang sekali. Saya sudah kehabisan saat memesannya….,” tukasnya. Saya bingung. Dalam hati, sayang juga menyisakan pangsit, tapi apa mau dikata karena memang saya tak suka. Saya tahu, membuang makanan sama saja dengan menyia-nyiakan nikmat dan rejeki dari Tuhan. 

“Saya suka pangsit di sini… Banyak orang juga datang kemari karena kelezatan pangsit itu, lho,” ujarnya. 

Maunya jaim, berusaha tenang. Tapi ekspresi wajah saya telanjur tersipu. Tak kurang akal, saya mencoba berkelit. 

“Maaf, Pak. Saya jadi nggak enak sama Bapak. Habis, porsinya terlalu banyak sih, sampai saya kekenyangan.”

Posted in Lidah Manja | 1 Comment »

 
2878 pages viewed, 22 today
1389 visits, 11 today
FireStats icon Powered by FireStats