Suasana Imlek di Pasar Gede
Posted by Keliling Surakarta on Februari 7th, 2008
Menyaksikan kemeriahan suasana Imlek di Klenteng Avalokiteswara seperti membawa saya ke suasana damai masa lalu. Jauh sebelum Pemerintah Hindia Belanda mengadu domba sesama warga penghuni Kota Sala.Â
Suasana yang damai dan keakraban antaretnis terbangun secara apa adanya, natural. Kerusuhan berbau rasial pada Mei 1998, juga pada akhir 1940-an atau awal 1980-an, sesungguhnya dipicu oleh pemisahan komunitas budaya, lalu dikipas-kipas dan dimanipulasi asal-usulnya. Â
Pasar Gede, menjadi saksi penting perjalanan sejarah interaksi sosial masyarakat Surakarta. Jawa, Cina dan Arab tumpah ruah di pasar itu, terlibat dalam transaksi jual-beli. Sekilas memang wajar, tak peduli asal-usul genetis dan kasta. Kalau memang harus berbelanja di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, niscaya terjadi dialog.Â
Yang tak wajar adalah ketika pemerintah Hindia Belanda menjadikan Pasar Gede sebagai laboratorium politik pecah-belah. Sampai-sampai, gagasan arsitek humanis Thomas Karsten yang membangun pasar itu pada kurun 1893-1939 atas titah Raja Surakarta Pakubuwono X, mudah ditumbangkan oleh kepentingan terpadu pemerintah kolonial.Â
Gagasan membuat bangunan dua lantai yang tidak menyulitkan kuli gendong dan kuli panggul saat mengangkut barang dagangan, pun dengan mudah ditumbangkan dengan politik preman ala kolonialis Belanda.Â
Asal tahu saja, di kompleks pasar yang hanya terpisahkan oleh jalan (kini Jl. Kapten Mulyadi), terdapat kawasan Pecinan (kini bernama kampung Balong). Belanda menunjuk centeng Pecinan sebagai pengutip pajak di Pasar Gede. Dalam rangka politik devide et impera, sang centeng diberi pangkat mayor. Orang-orang tua, dulu menyebutnya dengan Mayor Babah.Â
Dibatasi Kali Pepe, persis di selatan Pecinan terdapat kompleks pemukiman untuk orang-orang Belanda dan bangsa Eropa. Lojiwetan namanya. Hingga kini, loji-loji itu masih kokoh berdiri. Dulu, di kawasan itu terdapat gedung societet, semacam gedung kesenian untuk dansa-dansi penggede Hindia Belanda. Â
Kawasan Lojiwetan itu terletak di sebelah timur Benteng Vastenburg, kompleks tentara Belanda. Benteng itulah yang dijadikan pusat pertahanan kolonialis sekaligus untuk memantau gerak-gerik kaum pribumi, juga tentara kerajaan.Â
Masih terkait dengan politik pecah-belah, di selatan Lojiwetan, pemerintah Hindia Belanda mengkotakkan keturunan Arab ke dalam sebuah perkampungan khusus, yang kini dikenal dengan nama Pasar Kliwon.Â
Sebagai pusat interaksi yang terletak di kawasan Pecinan, bersebelahan dengan Pasar Gede terdapat Klenteng Avalokiteswara atau kini bernama Klenteng Tien Kok Sie. Tak jelas asal-usulnya, namun kuat diduga klenteng memang biasa dibangun di daerah dimana komunitas keturunan Cina berada. Â
Kali Pepe yang jaraknya hanya sejengkal dengan Pasa Gede, dulunya tak lain merupakan sarana transportasi utama bagi kaum pedagang yang menggunakan perahu atau kapal kecil. Apalagi, Kali Pepe terhubung dengan Sungai Bengawan Sala yang menghubungkan dengan dunia perdagangan internasional dengan pusatnya di Tuban dan Gresik, yang tak lain merupakan hulu Bengawan Sala.


Februari 8th, 2008 at 4:09 pm
Wah… Ketandan. Tempat menghabiskan masa kecilku.
blontankpoer:Hehe… bisa jadi obat rindu, dong… Salam kenal, Mas.Gong Xi Fat Chai!
Februari 19th, 2008 at 7:15 pm
That’s fantastic Chinese New Year spirit. I haven’t seen such a sensational Chinese New Year(CNY) atmosphere when I was a little boy in Solo. My hometown has changed tremendously since reformation era. I love to go home to catch up with all my relatives in Solo during CNY next year. Yeah, Solo is still in my heart although I have been living in my adopted foreign country now.
I hope people in Solo will live in harmony regardless their ethnicity,religion and beliefs.
Have a Wonderful Chinese New Year!!!Gong Xi Fa Chai!!!