Keliling Surakarta

Kami antar Anda menelusuri sisi Surakarta hingga yang terdalam

Archive for the 'Klangenan' Category

Kabar seputar tempat-tempat yang nyaman untuk kencan ringan dengan kerabat dan teman dekat

Tarian Serba Tradisi di Malem Nemlikuran

Posted by Keliling Surakarta on 26th Februari 2008

Bila Anda menyukai tari-tarian tradisi, SMKI (kini SMK Negeri 8 ) Surakarta adalah tempat yang tepat dikunjungi. Pada tanggal 26 malam setiap bulannya, beragam jenis tari dipanggungkan di pendapa sekolah itu. Mbak Retno Maruti, penari istana semasa Bung Karno, juga pernah mengisi forum bulanan ini.

golek_montro 

Selain Mbak Utik –sapaan akrab Retno Maruti, puluhan artis pernah nguri-uri keberadaan forum itu. Mulai para maestro, mantan penari bedaya Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran hingga mahasiswa/mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan murid-murid SMK Negeri 8 sendiri. 

Biasanya, dalam satu peristiwa ditampilkan dua-tiga tarian dari generasi berbeda. Karena itu, penonton dan penikmat dimudahkan dalam mengapresiasi. Kendati bukan pertandingan, tapi boleh-boleh saja membandingkan. Beda orang, beda jam terbang, maka beda pula kemampuan. 

Semula, forum bernama resmi Beksan Malem Nemlikuran itu dimaksudkan sebagai ajang kumpul-kumpul para alumnus sekolah seni yang dulunya bernama Konservatori tersebut. Diprakarsai sejumlah penari yang kini di mengajar di Sala, seperti Mas Daryo, Mas Wahyu, Mas Bambang dan lain-lain, forum ‘reuni’ tersebut akan merayakan ulang tahunnya yang keempat, Maret mendatang.

lengger 

Semula (lagi), pemilihan artis penampil hanya dikhususkan kepada mereka yang concern pada tari-tarian Jawa, khususnya gaya Surakarta. Tak ada sistem kuratorial yang kaku, bukan pula menggunakan pola undian arisan. Siapa yang siap karya bisa saja mengajukan diri dan memilih bulan tampilnya sendiri. 

Syaratnya gampang saja, artis mesti siap menanggung biaya sendiri. Panitia tidak menyumbang, apalagi honor. Hanya panggung berikut tata suara dan tata cahaya plus kursi bagi pengunjung yang disediakan. Konsumsi pun diadakan dengan pola saweran atau serkileran menurut kosakata seniman Sala. Guyub. Kompak. 

Karena forum itu ‘hidup’, para pemrakarsa lantas meluaskan ‘coverage area’-nya. Tak cuma yang berbau Jawa (Surakarta dan Yogyakarta),  beragam tarian khas atau tradisi daerah atau suku apapun mulai diperkenalkan.

 “Kami ingin forum ini menjadi ajang apresiasi kekayaan khazanah tari tradisi dari seluruh Indonesia,” ujar Bambang Suhendro, salah satu pengampu jurusan tari SMK itu.

ludiraMADU  

Niat mulia para ‘penari tua’ itu, tentu tak bijak diabaikan. Kabarkan kepada teman, kerabat dan kolega Anda, agar menyempatkan menonton ke kompleks sekolahan yang terletak di Kampung Kepatihan itu. Kira-kira 400 meter dari Pasar Gede arah Jebres, Anda akan menjumpai kantor Bank BCA di kiri jalan. Nah, SMK 8 berada 100 meter di belakang bank itu. Sekadar mengingatkan, khusus bulan ini, forum terpaksa ditiadakan.

Menurut Mas Daryo, ketua forum itu, “Para seniman sedang sibuk dengan tugas-tugas profesinya di kampus.” Sayang….   

Posted in Klangenan | 7 Comments »

Koes Plus Tak Lagi Ngak-ngik-ngok

Posted by Keliling Surakarta on 8th Februari 2008

Ada forum klangenan yang, mungkin, tidak dapat dijumpai di tempat lain. Ya, di Sala, tepatnya di THR Sriwedari, ada pentas musik bertajuk Koes Plus-an, setiap Kamis malam. Tak ada libur kecuali pada hari-hari besar keagamaan.

koesplus1 

Sesuai namanya, sepanjang durasi pergelaran pukul 19.30 - 22.30, hanya dilantunkan tembang-tembang jadul karya-karya Koes Plus, yang oleh Bung Karno disebut kelompok musik ngak-ngik-ngok. Sudah lebih dari empat tahun, Nusantara Band yang menjadi home band, tampil di sana. 

Penonton tumpah ruah. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam pula, mulai tukang tambal ban hingga pejabat pemerintahan. Bahkan, banyak preman menghabiskan sebagian malamnya di sana. Tapi, pada malam-malam begitu, wajah mereka penuh damai. Tak ada sangar-sangarnya sama sekali. Peace! 

Seribuan pengunjung selalu setia hadir. Tak hanya dari tlatah Surakarta, sebagian malah jauh-jauh datang dari Ngawi, Jawa Timur. Biasanya, mereka datang berombongan. 

Anda jangan coba-coba menggeneralisir, bahwa fans Koes Plus hanya mereka yang berusia 40-an. Sejak awal kehadiran forum Koes Plus-an, tua-muda berbaur. Malah, banyak rombongan datang dengan tiga generasi sekaligus: ayah/ibu-anak-nenek! 

koesplus2 

Keakraban ala Sala juga sangat terasa. Keramahan yang saya yakin tak bakal Anda jumpai di tempat-tempat lain. Bukan hanya bertegur sapa, saat datang atau beranjak pun mereka saling tegur dan bersalaman. Koes Plus-an sungguh pantas disebut sebagai ajang kangen-kangenan. Tak jarang, saya melakukan janji ketemuan di sana. Bisa ngobrol panjang, kadang disela nyanyi bareng mengikuti lantunan vokalis. 

Percaya atau tidak, tiga tahun lampau saya hanya membayar Rp 2.000 untuk masuk. Lama absen, tiket masuk sudah naik seribu rupiah. Kata teman-teman, kenaikan itu justru akibat desakan pengunjung. Bukan sok-sokan. Rupanya, komunitas penonton yang merasa puas terhibur perlu menuntut kenaikan harga tiket supaya honor Nusantara Band meningkat. 

Kini, tanda masuk sudah menjadi Rp 5.000 per orang. Tak ada beda untuk anak atau orang tua. Solidaritas terbangun seiring naluri empati. 

Kalau Anda ingin mencoba suasana baru, percayalah, bukan hanya terhibur, sepulang dari sana akan segera hilang penat-lelah. Puluhan ibu-ibu suka berjoget di belakang. Kadang bisa dijumpai seorang pemuda mabuk, bergoyang bebas di depan pengeras suara.

Posted in Klangenan | No Comments »

 
2878 pages viewed, 22 today
1389 visits, 11 today
FireStats icon Powered by FireStats