Keliling Surakarta

Kami antar Anda menelusuri sisi Surakarta hingga yang terdalam

Archive for the 'Lidah Manja' Category

Tentang beragam jenis makanan dan tempat makan di Surakarta dan sekitarnya

Wedang Cemol

Posted by Keliling Surakarta on 20th Februari 2008

Wedang Cemol (lafal bunyinya seperti kata setor) merupakan salah satu jenis minuman khas Sala. Bak kosa kata, wedang ini masuk kategori arkais. Masih ada, tapi bukan pekerjaan gampang untuk dapat merasakannya.

Sekilas, rasa Wedang Cemol hampir mirip Wedang Rondhe atau Bajigur (kata orang Yogya). Sama-sama pedas karena berunsur jahe, namun beda penampilan karena isinya juga berbeda. Tak ada kolang-kaling seperti pada Wedang Rondhe, warna putih pada Wedang Cemol berupa kelapa muda.

wedang cemol

Wedang Cemol lumayan menyehatkan. Meneguknya segelas, sudah sanggup mengusir rasa dingin pagi, malam atau ketika hujan.

‘Ornamen’ Wedang Cemol terdiri dari kacang goreng sangrai, potongan roti tawar dan serutan kelapa muda. Manisnya pada wedang ini pun ramah karena berasal dari gula aren, bukan kristal sari tebu. Di Sala, wedang ‘arkais’ ini bisa ditemukan di restoran Hotel Roemahkoe di Jl. Rajiman, kawasan saudagar batik Laweyan.

Tak mahal, hanya Rp 9.500 untuk satu gelas, belum termasuk pajak. Wedang Cemol cocok bersanding dengan pisang goreng atau pisang owol untuk cemilan sambil ngobrol di hotel yang juga bekas rumah saudagar batik itu. Kalau Anda pernah membaca novel Canting-nya Arswendo Atmowiloto, rumah itu akan mengajak Anda bertamasya ke masa lalu.

Tanya PamanTyo kalau saya dianggap membual.

Posted in Lidah Manja | 6 Comments »

Lezatnya Kuetiau Pak Yono

Posted by Keliling Surakarta on 12th Februari 2008

Belum lama saya mengenal lezatnya kuetiau. Kalau saja istri saya tak memaksa, mungkin selamanya lidah saya tak punya pengalaman mengecapnya, apalagi kuetiau goreng seafood bikinan Pak Yono. Sedari dulu, yang menggoda saya rajin bertandang hanyalah sop ayam. Suegerrr tenan……! 

kwetiauw2 

Sop (lidah Jawa telanjur biasa mengucap sup) ayam Pak Yono terletak di  sebelah kiri Hotel Malkana (kini bernama Grand Orchid), Jalan Gajahmada. Orang pertama yang memperkenalkan itu bernama Happy, praktisi bisnis teknologi informasi. Saat babat alas menghadirkan akses internet di Sala, belasan tahun silam, dia sering mengajak saya makan di warung itu. Biasanya tengah malam, atau menjelang pagi. 

Selain sop, saya berkenalan pula dengan ayam goreng tepung. Gurih, kriuk-kriuk. Saya biasa menyantapnya dengan sambal kecap secolek, yang biasa disertakan sebagai variasi sop ayam atau kuetiau. 

Kalau saja Anda sedang menginap di Orchid atau Novotel, jangan ragu singgah di warung kakilima ini. Gengsi sebaiknya dibuang bila masih sayang pada lidah sendiri. Tak perlu dalam merogoh saku, dijamin beroleh beragam menu ala China yang lumayan lezat. Ada mi goreng, cah kangkung dan belasan varian masakan mi lainnya.

Bestik daging sapinya juga yahud, tak kalah dengan sajian Harjo Bestik. 

Saya tambahkan kata ‘lumayan’ karena kokinya sudah bukan lagi Pak Yono. Beliau ‘pensiun’ sejak setahun silam, dan digantikan anaknya, yang (saya tahu) sudah bertahun-tahun magang ‘asisten’. Karena itu, nyaris tak ada selisih rasa di antara keduanya. 

Warungnya tak seberapa luas. Bangku yang ada hanya cukup untuk sekitar 11 orang. Meski jarang menjumpai antrian, tapi yakinlah itu bukan pertanda warung itu tak laku. Bagi para pelanggan, rata-rata sudah saling ‘kenal wajah’ meski tak pernah saling tahu nama masing-masing.  

Posted in Lidah Manja | 11 Comments »

Ceker itu Enak, Jenderal!

Posted by Keliling Surakarta on 11th Februari 2008

Ceker adalah cakar, sebutan untuk kaki unggas. Bagian tubuh unggas terbawah ini naik daun seiring popularitas Gudeg Margoyudan, tepatnya di Jl. Monginsidi, timur proliman (simpang lima) Banjarsari.  

Meski jualan aslinya nasi gudeg dan bubur sambal goreng, namun publik luas memberi julukan Gudeg Ceker. Mungkin lantaran banyak orang melihat kaki ayam laris manis di situ.  

cekergudeg 

Tenda warung baru dibentangkan setelah pukul 1 dinihari, pengunjung tetap saja mengantri. Pada jam-jam awal, kebanyakan diramaikan oleh kehadiran sekelompok orang sekeluarga atau bersama rekan dan kenalan.  

Namun, dua jam sejak dibuka hingga subuh, seiring dengan mulai tutupnya tempat-tempat hiburan malam, karakteristik pengunjung pun berganti. Kali ini, giliran pengelana malam mendominasi. Stamina harus dijaga, perut tak boleh berbunyi seperti suasana di rumah-rumah musik dan kamar-kamar karaoke. 

Kelompok lain, yakni orang kebanyakan pun mulai berdatangan sekitar pukul 5. Ada yang sengaja membeli menu sarapan pagi, ada pula yang santap di tempat setelah lelah berolah raga. Yang jelas, semua lapisan masyarakat ada dalam daftar pelanggan. 

Gus Dur, misalnya, termasuk orang yang selalu minta diantar jajan di warung itu setiap singgah di Sala. Sedang pada hari terang, mantan presiden itu memilih rumah makan Adem Ayem untuk makan bersama komunitasnya. 

Saya punya pengalaman khusus di warung itu. Belasan tahun silam, bersama teman main saya: Wisnu dan Rudi, kami sedang asyik makan ketika serombongan kecil tiba sesaat setelah kami. Rupanya, mereka pejabat Departemen Penerangan bersama sejumlah pejabat lokal dan propinsi. 

Rudi, teman saya yang agak urakan langsung menyapa. “Lho, Pak, kok di sini. Kok tidak naik gajah?” 

Orang yang disapa tersenyum. Lalu terjadilah dialog sambil cengengesan antara kami dengan lelaki paruh baya itu. Saya diam karena sudah masuk wilayah sepakbola, cabang olahraga yang tak kumengerti itu. Wisnu dan Rudilah yang banyak ngobrol dengan lelaki itu.  

Sambil mengingat-ingat, sampailah pada memori lamaku. Dialah IGK Manila, pensiunan jenderal tentara yang ngurusi olahraga dan nyangkut di Departemen Penerangan. Di tengah perbincangan, Pak Manila menanyakan siapa kami. Rudi menyergah tangkas, ”mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Pak!”

Saya tertawa kecil. Mestinya, kami sudah tak pantas mengaku mahasiswa. Status itu sudah kadaluwarsa setahun. Pak Manila membayar semua makanan kami.

Saat pamit pergi, ia menggamit Rudi. “Ini!” kata Pak Manila. 

Kepada kami, Rudi pamer lembaran biru bergambar Soeharto. Lalu, masuklah babak berikutnya, yakni cara membagi duit lima pulur ribu itu untuk bertiga. 

Pasare bubar, kerene gelut! (meminjam kalimat pelawak Junaedi)

Posted in Lidah Manja | 6 Comments »

Nge-Mie di Atas Kali

Posted by Keliling Surakarta on 9th Februari 2008

Nge-mie di atas Kali Pepe asyik juga. Belum sebanyak hitungan jari, memang. Tapi beberapa menu sudah saya coba, seperti mie bakso, bakso kuah, mie ayam, juga mie pangsit. Hampir semua menu terasa pas di lidah.

gajahmas_031 

Itulah mie Gajah Mas, yang membuka usahanya di sebuah bangunan sempit di atas Kali Pepe, tepat di ujung jembatan yang menghubungkan Balaikota dengan Pasar Gede. Pemiliknya mengklaim kehalalan semua menunya. Maka tak aneh, warung itu selalu dijejali pengunjung sejak buka jam 9 pagi hingga hampir jam 9 malam. 

Karena berjubelnya pelanggan, sampai trotoar bagi pejalan kaki di salah satu sisi jembatan pun dipenuhi payung peneduh dengan kursi-kursi mengitari meja bulat. 

Di warung ini, saya menyukai mie bakso dan mie ayam jamur. Sedang istri saya, menyukai hampir semuanya, terutama pangsitnya yang selalu dicari pelanggan. Suatu ketika, saya bersama teman makan bersama di sana. Belum sempat pesan, sang teman mendahului memesankan mie pangsit untuk saya. Karena tak terlalu suka, maka pangsit saya pinggirkan sementara mie tandas tak terlalu lama. 

gajahmas_2

“Kok, pangsitnya tidak dimakan, Mas,” tanya lelaki di samping saya. “Saya kurang suka, Pak,” sahut saya kepada lelaki yang datang bersama pasangannya itu. 

“Wah, sayang sekali. Saya sudah kehabisan saat memesannya….,” tukasnya. Saya bingung. Dalam hati, sayang juga menyisakan pangsit, tapi apa mau dikata karena memang saya tak suka. Saya tahu, membuang makanan sama saja dengan menyia-nyiakan nikmat dan rejeki dari Tuhan. 

“Saya suka pangsit di sini… Banyak orang juga datang kemari karena kelezatan pangsit itu, lho,” ujarnya. 

Maunya jaim, berusaha tenang. Tapi ekspresi wajah saya telanjur tersipu. Tak kurang akal, saya mencoba berkelit. 

“Maaf, Pak. Saya jadi nggak enak sama Bapak. Habis, porsinya terlalu banyak sih, sampai saya kekenyangan.”

Posted in Lidah Manja | 1 Comment »

Nasi Liwet Bu Sarmi

Posted by Keliling Surakarta on 7th Februari 2008

warung

Berada di Sala, rasanya kurang afdol kalau tidak mencicipi nasi liwet. Ada banyak pilihan untuk Anda. Pada pagi hari –biasanya antara jam 5 hingga 6.30, hampir di setiap gang di tengah kampung berserak dagangan nasi liwet. Selain nasi liwet, biasanya dijajakan pula bubur tumpang, pecel tumpang dan aneka gorengan seperti bakwan, tempe, tahu dan sosis. Dengan duit Rp 5.000 saja, dijamin sudah kekenyangan. 

Beda pagi, lain pula siang hari, dimana nasi liwet hanya ‘beredar’ di rumah-rumah makan. Di dekat Stasiun Purwosari, tepatnya di Jl. Slamet Riyadi, Anda bisa singgah di rumah makan Lampu Hijau. Agak mahal memang, tapi tak sampai menguras dompet. Dengan sepuluh ribu, sudah didapat santapan lezat, juga teh panas yang enak. Tak kental, tapi sepet-nya sungguh terasa.  

Di rumah makan itu, tersedia gudeg kendil, juga ayam goreng dan bakar. Dijamin asli ayam kampung. Gurih! Soal kehalalan, Insya Allah bisa dipertanggungjawabkan. Sebelum jadi loyal customer, saya mengenal rumah makan itu atas referensi seorang kiai, teman sekaligus mentor spiritual.  

Bagi muslim, urusan halal-haram itu sangat penting. Sang kiai moderat itu selalu menasihati saya dengan kalimat begini: 

Kalau berpakaian, sesuaikan dengan yang umumnya dipakai orang. Soal makan, gunakan ukuran dirimu sendiri. (Pantas saja, sang kiai kadang bercelana jeans dan t-shirt saat kumpul-kumpul dengan pastor, pendeta dan bhiksu. Sedang saat punya hajat, dia tak pernah lupa menyediakan menu vegetarian, agar sang bhiksu juga bisa turut kembul bujana andrawina).

pincuk nasi liwetKembali ke nasi liwet, ingatan kebanyakan dari Anda cenderung tertuju pada Bu Wongso Lemu di Keprabon. Ya, Keprabon memang wilayah jajan di malam hari, baik bagi warga sekitar maupun pelancong. Banyak penjual nasi liwet di sana. Juga gudeg dan masakan Jawa lainnya. Meski tak mahal untuk ukuran kocek pelancong, pembeli lokal cenderung sensitif pada harga. Kalau malas antri atau ingin berhemat –meski tak seberapa terpaut, Anda bisa bergeser sekitar sat kilometer ke timur. Tepatnya, di Jl. Kapten Mulyadi, Lojiwetan, sebelah timur Benteng Vastenburg terdapat warung tenda penjaja nasi liwet. Namanya Bu Sarmi. 

Seperti di tempat-tempat lain, Anda bisa memesan lauk khusus sesuai selera. Bila nasi liwet standar berisi daging suwir dan telur rebus, Anda bisa memesan kulit dan brutu (yang ini pantat ayam. Lezat, meski orang suka risih karena yang disantap adalah saluran BAB!). Atau uritan, yakni sebutan untuk telur yang belum bercangkang. 

suasana jajan

Mengunjungi warung Bu Sarmi, sebaiknya hindari jam-jam makan, sekitar pukul 19.00 hingga 20.30. Bila datang pada saat-saat itu, antrian bisa panjang sehingga Anda dipaksa sabar dan harus awas terhadap bangku yang ditinggalkan pelanggan. 

Soal rasa, saya lebih suka warung ini dibanding jualan Bu Wongso Lemu. Meski ada jaminan rasa dan namanya sudah jadi legenda dan bahkan punya cabang di kawasan superelit di (Hotel) Darmawangsa Jakarta, saya lebih memilih Bu Sarmi. Apalagi, di sampingnya terdapat warung susu segar Shi Jack, sehingga saya bisa memesan langsung lewat pramusaji Bu Sarmi. Ada beragam pilihan menus susu, baik panas maupun dingin. Ada susu-telur-madu-jahe (STMJ), susu coklat, dan belasan kombinasi lainnya. (Khusus susu Shi Jack, tunggu posting mendatang).    

Posted in Lidah Manja | 1 Comment »

Grayak Minulya dan Thengkleng

Posted by Keliling Surakarta on 6th Februari 2008

Thengkleng

Thengkleng (e pertama dibaca seperti semu, e yang kedua seperti celeng) merupakan jenis masakan yang sedang naik kelas. Belakangan, nilai sebuah pesta bisa disebut menyusut bila tidak menampilkan thengkleng di antara menu standar seperti soto, bakso, sambal goreng atau nasi liwet. 

Padahal, kata thengkleng semula digunakan untuk mengolok-olok. Seseorang biasa menyebut temannya bagai tengkleng bila tubuh sang teman dinilai kelewat ‘langsing’. Sebab, kata itu merujuk pada citra visual, dimana tubuh hanya tampak bagai tulang terbalut kulit. 

Begitu pula yang nyata tampak pada masakan khas Sala bernama thengkleng itu. Anda tak bisa berharap memperoleh daging gempal dalam masakan berkuah encer itu. Kalaupun bisa menikmati daging, pastilah hanya sekerat-dua, itu pun harus dengan mempekerjakan gigi ekstrakeras, berjuang memisahkan daging dari tulang-belulang kambing. 

Kalau rajin mengaduk, masih mungkin menemukan yang empuk. Sumsum yang bersembunyi di rongga tulang bisa diisap, atau tulang iga muda yang mudah dikunyah. Renyah. Biasanya pula, otak masak terbungkus daun pisang dibiarkan berserakan di antara tulang-tulang itu. 

Sebagian orang menganggap thengkleng sebagai masakan tak beradab. Selain membuat mulut belepotan, tangan pun kadang harus meminggirkan peran sendok. Garpu, nyaris tak bisa dipakai menikmati masakan ini. Maka, wijikan (tempat cuci tangan) harus setia menyertai prosesi dhahar, selain tisu atau serbet.  

Tapi, begitulah kepiawaian orang Jawa. Ada saja celah untuk memberi makna lebih untuk kata serapan dari bahasa Arab: mubazir! Kata nggragas (rakus), menjadi kurang relevan di sini. 

Kata thengkleng mengingatkan saya pada istilah grayak minulya. Sulit menemukan padanan kata yang tepat atas sebutan yang dicetuskan almarhum Umar Kayam itu. Kita mudahkan saja grayak minulya sebagi sebutan untuk penjarah yang dimuliakan derajadnya. 

Dulu, pada pertengahan 1990-an, saya (sebagai sopir pocokan Pak Murti) kerap mengantar satu panci besar berisi thengkleng ke rumah Mbah Kayam di Bulaksumur. Kalau tidak kebagian Thengkleng Kadipiro (yang ini langganan keluarga Cendana), masih ada alternatif buatan Mbak Diah yang warungnya berada di pertigaan Tanjunganom, arah Solo Baru dan Baki dari Gemblegan. 

Beberapa hari sebelum kondur Ngayogyakarta, biasanya –lewat telpon, Mbah Kayam dhawuh Pak Murtidjono (saat itu Kepala Taman Budaya Surakarta) untuk mengirim masakan kegemaran budayawan yang siluet wajahnya mirip Kolonel Sanders KFC itu. Ukuran panci yang dibawa pun akan disesuaikan dengan jumlah grayak minulya yang sengaja diundang untuk Kumpul Ora Kumpul Waton Mangan. Selain Butet, biasanya ada Pak Ashadi Siregar, beberapa personil Teater Gandrik, Halim HD, dan Arif Affandi yang kini Wakil Walikota Surabaya, dan sejumlah undangan lainnya. 

Karena berbahan baku kambing, thengkleng tentu (menurut nasihat dokter) kurang baik untuk penderita hipertensi. Tapi, karena thengkleng merupakan masakan eksotis, tetap saja dicari banyak orang. Apalagi, bagi orang yang terbiasa makan di restoran bermenu Eropa, menyantap thengkleng pasti memiliki kesan mendalam.  

Mbrakoti daging yang menempel pada tulang bisa menjadi medium katarsis bagi naluri rakus yang melekat pada setiap manusia. 

Di Sala, mencari thengkleng tidak terlalu sulit. Sebagian warung sate juga menjual thengkleng (kalau yang ini, namanya optimalisasi keuntungan), seperti Sate Mbok Galak di kawasan Sumber. Di pasar-pasar tradisional juga mudah dijumpai penjaja thengkleng, meski untuk pedagang kelas gendongan hanya ada satu yang menonjol dan laris, yakni yang berjualan di sisi timur gapura Pasar Klewer. Untuk yang satu ini, kurang dari sejam sudah habis sejak buka dagangan setiap pukul 14.00 WIB. 

Satu peringatan penting bagi Anda, jangan sekali-sekali merengek minta thengkleng pada malam hari. Saya belum bisa memberitahukan kepada Anda dimana ada penjual thengkleng. Selepas maghrib, mencari penjual thengkleng sama sulitnya dengan mencari pahala!

Posted in Lidah Manja | 5 Comments »

Menu Elek-elekan Harjo Bestik

Posted by Keliling Surakarta on 5th Februari 2008

Bestik Lidah

Di Sala (orang terbiasa mengucapkan dengan kata Solo), tepatnya di sebelah timur perempatan Pasar Kembang, terdapat warung tenda yang lumayan kesohor. Harjo Bestik, namanya. Beragam menu tersaji, selain bestik lidah sapi sebagai dagangan unggulan. Satu-satunya jenis makanan yang tidak ditampilkan pada daftar menu bernama Elek-elekan.

Elek-elekan berupa pangkal lidah yang digoreng kering. Gurih dan crispy. Enak disantap bersama nasi putih, nasi goreng atau mie goreng yang tersedia pula di sana. Soal kenapa dinamai Elek-elekan, saya tidak tahu persis alasannya. Mungkin diambil dari maknanya, yakni yang serba jelek alias sisa-sisa, sehingga dinamai demikian. Karena ‘barang sisa’ pula, mungkin, menu itu tak dicantumkan di daftar.

Pertama saya mengenal nama menu itu justru dari biang keplek ilat, Butet Kartaredjasa. Saat itu, usai tampil sebagai pembicara di rumah dinas walikota, Butet mengajak kami makan di sana. Semula, saya mengira ia akan memesan bestik (dari kata beefsteak)lidah saja, yang terbukti kemudian keliru. Butet hanya menyantap sedikit nasi putih dengan lauk Elek-elekan, sambil bertutur panjang lebar mengenai salah satu makanan kesukaannya di Sala itu. (Ah, ternyata dia sangat tahu tentang jajanan di Sala).

Elek-elekan, juga nasi goreng dan risol goreng bisa menjadi makanan alternatif bagi yang tak suka rasa manis. Sebab, hampir semua jenis bestik di sana disajikan berkuah dengan kecap manis dan minyak sayur mendominasi rasa. Jangan ragu, makanan di sana masuk kategori halal sehingga nyaman bagi Anda yang puritan beragama.

elek-elekan

Suasana Sala juga bisa dirasakan dengan kehadiran kelompok musik keroncong yang setia menghibur pengunjung setiap harinya. Mulai langgam Jawa klasik hingga lagu-lagu Indonesia terkini bisa dilantunkan mereka. Anda cukup membayar seikhlasnya, tergantung kepuasan yang diperoleh.

Jangan ragu, semua makanan dijual mulai harga Rp 9.000 hingga Rp 12.000-an. Tak mahal untuk ukuran masakan selezat sajian Harjo Bestik. 

Posted in Lidah Manja | 7 Comments »

 
2878 pages viewed, 22 today
1389 visits, 11 today
FireStats icon Powered by FireStats