
Thengkleng (e pertama dibaca seperti semu, e yang kedua seperti celeng) merupakan jenis masakan yang sedang naik kelas. Belakangan, nilai sebuah pesta bisa disebut menyusut bila tidak menampilkan thengkleng di antara menu standar seperti soto, bakso, sambal goreng atau nasi liwet.Â
Padahal, kata thengkleng semula digunakan untuk mengolok-olok. Seseorang biasa menyebut temannya bagai tengkleng bila tubuh sang teman dinilai kelewat ‘langsing’. Sebab, kata itu merujuk pada citra visual, dimana tubuh hanya tampak bagai tulang terbalut kulit.Â
Begitu pula yang nyata tampak pada masakan khas Sala bernama thengkleng itu. Anda tak bisa berharap memperoleh daging gempal dalam masakan berkuah encer itu. Kalaupun bisa menikmati daging, pastilah hanya sekerat-dua, itu pun harus dengan mempekerjakan gigi ekstrakeras, berjuang memisahkan daging dari tulang-belulang kambing.Â
Kalau rajin mengaduk, masih mungkin menemukan yang empuk. Sumsum yang bersembunyi di rongga tulang bisa diisap, atau tulang iga muda yang mudah dikunyah. Renyah. Biasanya pula, otak masak terbungkus daun pisang dibiarkan berserakan di antara tulang-tulang itu.Â
Sebagian orang menganggap thengkleng sebagai masakan tak beradab. Selain membuat mulut belepotan, tangan pun kadang harus meminggirkan peran sendok. Garpu, nyaris tak bisa dipakai menikmati masakan ini. Maka, wijikan (tempat cuci tangan) harus setia menyertai prosesi dhahar, selain tisu atau serbet. Â
Tapi, begitulah kepiawaian orang Jawa. Ada saja celah untuk memberi makna lebih untuk kata serapan dari bahasa Arab: mubazir! Kata nggragas (rakus), menjadi kurang relevan di sini.Â
Kata thengkleng mengingatkan saya pada istilah grayak minulya. Sulit menemukan padanan kata yang tepat atas sebutan yang dicetuskan almarhum Umar Kayam itu. Kita mudahkan saja grayak minulya sebagi sebutan untuk penjarah yang dimuliakan derajadnya.Â
Dulu, pada pertengahan 1990-an, saya (sebagai sopir pocokan Pak Murti) kerap mengantar satu panci besar berisi thengkleng ke rumah Mbah Kayam di Bulaksumur. Kalau tidak kebagian Thengkleng Kadipiro (yang ini langganan keluarga Cendana), masih ada alternatif buatan Mbak Diah yang warungnya berada di pertigaan Tanjunganom, arah Solo Baru dan Baki dari Gemblegan.Â
Beberapa hari sebelum kondur Ngayogyakarta, biasanya –lewat telpon, Mbah Kayam dhawuh Pak Murtidjono (saat itu Kepala Taman Budaya Surakarta) untuk mengirim masakan kegemaran budayawan yang siluet wajahnya mirip Kolonel Sanders KFC itu. Ukuran panci yang dibawa pun akan disesuaikan dengan jumlah grayak minulya yang sengaja diundang untuk Kumpul Ora Kumpul Waton Mangan. Selain Butet, biasanya ada Pak Ashadi Siregar, beberapa personil Teater Gandrik, Halim HD, dan Arif Affandi yang kini Wakil Walikota Surabaya, dan sejumlah undangan lainnya.Â
Karena berbahan baku kambing, thengkleng tentu (menurut nasihat dokter) kurang baik untuk penderita hipertensi. Tapi, karena thengkleng merupakan masakan eksotis, tetap saja dicari banyak orang. Apalagi, bagi orang yang terbiasa makan di restoran bermenu Eropa, menyantap thengkleng pasti memiliki kesan mendalam. Â
Mbrakoti daging yang menempel pada tulang bisa menjadi medium katarsis bagi naluri rakus yang melekat pada setiap manusia.Â
Di Sala, mencari thengkleng tidak terlalu sulit. Sebagian warung sate juga menjual thengkleng (kalau yang ini, namanya optimalisasi keuntungan), seperti Sate Mbok Galak di kawasan Sumber. Di pasar-pasar tradisional juga mudah dijumpai penjaja thengkleng, meski untuk pedagang kelas gendongan hanya ada satu yang menonjol dan laris, yakni yang berjualan di sisi timur gapura Pasar Klewer. Untuk yang satu ini, kurang dari sejam sudah habis sejak buka dagangan setiap pukul 14.00 WIB.Â
Satu peringatan penting bagi Anda, jangan sekali-sekali merengek minta thengkleng pada malam hari. Saya belum bisa memberitahukan kepada Anda dimana ada penjual thengkleng. Selepas maghrib, mencari penjual thengkleng sama sulitnya dengan mencari pahala!
Share This