Keliling Surakarta

Kami antar Anda menelusuri sisi Surakarta hingga yang terdalam

Archive for the 'Suasana Kota' Category

Info seputar sudut-sudut kota

Meriahnya Karnaval Batik

Posted by Keliling Surakarta on 17th April 2008

blog3.jpg

Untuk pertama kalinya, sebuah karnaval besar berlangsung meriah di Surakarta. Tak hanya rapi, suasana agung sangat terasa selama fashion on the street berlangsung sejak selepas tengah hari hingga petang. Ratusan peserta, sebagian besar di antaranya para model Jember Fashion Carnival (JFC), benar-benar menyemarakkan Solo Batik Carnival 2008.

Semoga, fashion show ala Fashion TV itu bisa menjadi kalender peristiwa yang mendatangkan daya tarik pelancong, entah tahunan atau dua tahun sekali. Walikota Joko Widodo, pun menginginkan peristiwa semacam itu rutin berulang, sehingga roda perekonomian rakyat kian kencang berputar.

Masalahnya, seberapa kuat pemerintah daerah mampu menjaga keajegan acara? Kali ini saja, pembiayaan ditanggung sebuah perusahaan yang sedang membangun apartemen di pusat kota. Kabarnya, tahun depan akan membiayai kegiatan serupa, bahkan sudah menetapkan tanggalnya, pada 12 April.

blog_2.jpg

“Demi memajukan pariwisata Surakarta, kami akan support habis-habisan, khususnya untuk promosinya,” kata Walikota saat gala dinner di Pura Mangkunegaran, Sabtu (12/4) malam. Kata Pak Jokowi, pihaknya sudah mendata semua potensi ‘jualan kota’ seperti kekayaan seni-budaya, kerajinan dan peninggalan bersejarah.

Meski karnaval pertama didominasi arek-arek Jember, namun kerja keras mereka perlu diacungi jempol. Adalah Dynand Fariz, Presiden JFC yang habis-habisan menyeleksi peserta, baik lewat audisi maupun workshop. Sehingga, penampilan ratusan peserta lokal yang terdiri dari pelajar/mahasiswa, pelaku usaha batik dan instansi pemerintah, tak terasa timpang, dibanding penampilan para model JFC.

Satu yang menarik, JFC yang merangkap sebagai event organizer telah memberi pelajaran berharga bagi pemerintah dan warga Surakarta. Kegiatan semacam itu tak perlu harus ditangani EO lokal, bila memang tak ada organisasi yang mampu.

blog.jpg

Semoga, karnaval tahun mendatang lebih bagus dan berbeda dari yang baru saja berlalu. Sehingga, orang tak cepat bosan. Dan masih mau datang kembali, sambil mengajak kerabat, sahabat dan handai-taulan.

Posted in Suasana Kota | 5 Comments »

Selamat Ulang Tahun, Surakarta…

Posted by Keliling Surakarta on 17th Februari 2008

Memasuki usianya yang ke-263, Surakarta hampir kelar berbenah. Kota kian nyaman. Trotoar makin hijau, taman juga bertebaran di hampir seluruh penjuru kota. Pedagang kakilima pun tak lagi jadi klilip.

upacara_sala

Citywalk, kawasan bagi pejalan kaki sudah dibangun mulai Purwosari dan akan bermuara ke kompleks Beteng Vastenburg, kawasan baru sebagai pusat jajanan di Sala. Sejumlah pedagang makanan yang selama ini jadi ikon menu-menu unggulan, rencananya juga akan membuka cabang di sana.

Kelak, di sisi selatan sepanjang Jl. Slamet Riyadi, orang akan menyaksikan sejumlah pusat nongkrong yang nyaman. Di bawah rimbun pepohonan, akan dijumpai orang-orang nge-net dengan fasilitas hotspot yang bakal disediakan oleh Pemerintah Kota, sambil menyantap aneka jenis makanan dari gerobak-gerobak yang digratiskan untuk pedagang kakilima.

citywalk

Menandai ulang tahun yang jatuh pada Minggu, 17 Pebruari, walikota mengumumkan pemakaian aksara Jawa untuk melengkapi papan nama. Baik papan nama jalan, mal, pertokoan, hotel, restoran, juga kantor-kantor swasta.

Yang pasti, Sala akan menjadi daerah tujuan wisata yang menarik. Setiap pendatang, akan pergi membawa serta sejumlah kenangan. Kelak, kaum pebisnis akan betah berlama-lama dan membelanjakan uangnya, tidak sebatas pada aneka ‘jajanan malam’ yang memang berserak di seluruh sudut kota.

Taman Balekambang, kini tinggal menunggu penyelesaian pembangunan tahap akhirnya. Yang dulu kumuh, kini berubah jadi taman kota yang mengasyikkan. Teater terbuka juga sudah tersedia, berjarak sepelemparan batu dengan gedung ketoprak yang turut dibarukan.

reksapraja

Jangan ragu, tamasya ke Sala akan nyaman. Pemerintah Kota sudah membuat ‘pasukan khusus’ yang bakal mendampingi pengunjung, khususnya pada saat berlangsung event-event udaya. ‘Pasukan’ Reksa Praja beranggotakan 120-an orang disiapkan dengan kostum ala prajurit kerajaan. Kelak, mereka akan dilatih supaya fasih berbahasa Inggris pula.

Selamat ulang tahun, Sala….. Eh, Surakarta.

Posted in Suasana Kota | 7 Comments »

Suasana Baru Tirtonadi

Posted by Keliling Surakarta on 11th Februari 2008

Surakarta terus berbenah. Terminal Tirtonadi juga kian ramah. Tak seperti kebanyakan terminal bus di berbagai kota, lingkungan Tirtonadi kian padhang. Bukan semata terang oleh gemerlap lampu, tapi juga padhang lantaran tak ada preman dan perempuan malam berkeliaran.

Di dalam terminal, pengasong dan pengamen terus ditertibkan sejak beberapa tahun terakhir. Turun dari bus malam pada tengah malam, pun kian nyaman. Tak perlu takut atau cemas diganggu orang-orang berniat merampas. 

tirtonadi 

Ijinkan, saya mengajak Anda memberikan apresiasi yang sepadan kepada Walikota Joko Widodo. Cita-citanya mewujudkan Sala sebagai kota dagang dan pelesiran yang nyaman, terus diupayakan. Taman kota terus bermunculan. Tak hanya di jalan-jalan protokol, di daerah pinggiran dan perkampungan pun, kini banyak ruang-ruang hijau. 

Simak saja bagaimana ia menata terminal sejak setahunan silam. Di seberang terminal, sebuah taman kota sudah selesai ditata. Tinggal menunggu pohon-pohon palem menghijau, juga rumput dan taman bunga. Pada sore dan malam, kini ramai dikunjungi warga. 

Penerangan ditata sedemikian rupa, sehingga bangku-bangku beton nyaris terisi manusia menikmati pemandangan. Bantaran yang dulu kumuh oleh bedeng-bedeng liar, kini bersih total. Taksi resmi, taksi gelap dan ojek dipindahkan lokasi mangkalnya. 

Rencananya, sungai di samping taman juga akan ditata. ‘Pulau-pulau’ yang kini rimbun oleh rerumputan liar akan dibersihkan. Kabarnya pula, akan segera didatangkan sejumlah perahu untuk wisata air. Sungai dengan dam kecil yang pada masa kolonial Belanda dulu pernah populer dengan sebutan Praon, rupanya akan dihidupkan kembali.

Praon, yakni tempat bersampan, kini hanya dikenali generasi kelahiran tujuhpuluhan pada jejaknya semata: menjadi nama kampung di utara kali. Bila obyek wisata air terwujud kelak, orang-orang tak akan lagi kesulitan mengingat asal-usul nama kampung di sana. Warga sekitar (juga para pelancong) bisa menikmati bersampan atau naik perahu kecil berputar-putar di kali selebar 50-an meter itu. 

Karena terobsesi menjadikan Sala sebagai kota tujuan pelesiran dan belanja seperti kota-kota di Singapura, ijinkan saya menyebut kawasan kali itu seperti River Point di Singapura. Bedanya, di Tirtonadi tak ada perahu-perahu pesiar yang bisa mengantar penumpangnya dari dermaga-dermaga yang menyatu dengan hotel. 

Asal tahu saja, di Sala, belum ada hotel berbintang yang sengaja didirikan di pinggir kali.

Posted in Suasana Kota | 3 Comments »

Sensasi Wedangan Sala

Posted by Keliling Surakarta on 9th Februari 2008

Sala memang disesaki beragam orang dengan selera aneh-aneh. Jangankan bara arang dicelupin ke dalam seduhan kopi, bubuk coklat yang diseduh dengan air jahe plus tape beras pun lazim dipesan pengunjung wedangan­ –sebutan untuk kedai kakilima yang menjual aneka jenis minuman panas dan dingin.

 Di Sala, kedai beginian populer disebut wedangan. Di tlatah Yogya, sebutannya lain lagi: angkringan atau warung koboi. Ciri khasnya sama, penjual menggunakan gerobak dorong. Sepertiga bagian digunakan untuk tungku penjerang air, sebagian lainnya untuk menggelar aneka penganan dan nasi bungkus yang mashur dengan sebutan sego kucing.

 kemin2

Umumnya, si penjual berposisi sebagai pusat. Ia dikelilingi pelanggan yang duduk di bangku panjang mengitari penjual pada dua atau tiga sisi gerobak yang berfungsi sebagai meja. Penjual, biasanya menyediakan sejumlah tikar, yang biasanya digelar di beberapa tempat di sekitarnya, sesuai selera pengunjung.

 Bagi yang ingin mojok karena ingin melewati malam bersama kekasih atau atas dasar ingin menjaga privacy, mereka bia memilih tempat yang agak kiwa atau menjauh dari pusat.

 Begitulah suasana wedangan. Orang datang dengan alasan dan agenda sendiri-sendiri. Transaksi jual-beli bisa dilakukan di tempat-tempat begini, pembicaraan politisi juga biasa dilangsungkan dalam suasana wedangan. Kadang, orang datang hanya sekadar mengisi perut lalu pulang. Ada pula yang betah tinggal semalaman, menenggak bergelas-gelas wedang.

 Di antara ratusan tempat wedangan yang berserak di seluruh penjuru dan sudut-sudut kampung, Wedangan Kemin di belakang Monumen Pers adalah tempat favorit saya. Pak Yo, generasi kedua wedangan itu baru setahun ‘diusir’ (konon dengan kompensasi Rp 5 juta) dari tempat lamanya, di seberang monumen. Tempat lama yang telah dipakainya puluhan tahun, kabarnya akan disulap menjadi gedung perpustakaan, mungkin pula untuk rumah dinas Wakil Walikota.

 Di Wedangan Kemin, saya menyukai teh kental bikinannya. Coklat-jahe-tape-nya juga oke. Nasi oseng-osengnya juga lezat, lumayan pedas. Enak disantap dengan lauk kikil pilihan, apalagi dibakar terlebih dahulu. Di sinilah, teman atau relasi dari luar kota biasa saya bawa. Biasanya mereka bilang senang. Ada sensasi lain, katanya.

 Kalau sudah lewat tengah malam dan agak sepi pengunjung, saya sering meminta Perry, ‘pilot’ becak yang kerap nyambi sebagai pramusaji, untuk memijat. Pulang nongkrong badan bugar. Bangun pun lebih segar. Hmmm…

 Selain Wedangan Kemin atau Pak Yo, wedangan Mas Muji di Jl. Honggowongso, Tipes juga merupakan tempat favorit penggemar begadang. Hanya saja, saya kurang sreg karena terlalu ramai pengunjung.

 Wedangan dengan sajian teh yang mantap juga bisa ditemukan di Jl. MT Haryono, tak jauh dari kantor PLN Gondang. Sego kucing-nya juga pulen. Enak. Oh ya, hampir lupa. Sego kucing adalah sebutan (tepatnya olok-olok) untuk nasi sekepal dengan sambal dan lauk sekerat ikan asin yang dibungkus. Mungkin pantasnya untuk ngasih makan kucing piaraan, kaleeee……

 Jika Anda penikmat teh, Anda harus mengingat satu hal, terutama jika memilih tempat wedangan secara acak. Jangan lupa menyebutkan takaran gula dan tingkat kekentalannya. Kebanyakan penjual dikenal royal untuk urusan gula. Dua sendok makan adalah takaran standar, sehingga bila diaduk akan menonjolkan rasa manis berlebihan.

 Kalau hanya memesan teh panas, bisa dipastikan kepada Anda akan disuguhkan teh manis, kecuali menyebutkan permintaan teh tawar (berkebalikan dengan di Jakarta atau Bandung, yang selalu diberikan teh tawar bila tak mengemukakan permintaan sejak awal).

 Berbeda dengan kebanyakan warung di Jakarta yang maunya serba praktis dengan teh celup, kebanyakan penjaja di Sala memiliki ramuan berbeda-beda. Biasanya, dua atau lebih merek teh dicampurkan untuk membuat formula khusus. Karena itu, rasanya akan berbeda di setiap wedangan. Mungkin, itu pula yang membuat orang selalu kangen menyeruput wedang teh di luar rumah.

Posted in Suasana Kota | 6 Comments »

 
2878 pages viewed, 22 today
1389 visits, 11 today
FireStats icon Powered by FireStats