Keliling Surakarta

Kami antar Anda menelusuri sisi Surakarta hingga yang terdalam

Archive for the 'Suasana Kota' Category

Info seputar sudut-sudut kota

Pasar Yaik

Posted by Keliling Surakarta on 12th Februari 2009

Kota Surakarta kembali menghidupkan pasar malamnya. Namanya Night Market. Lokasinya di Jl. Diponegoro, tepatnya jalan menuju Pura Mangkunegaran dari arah Pasar Pon. Dulu, pasar yang dijejali pedagang kakilima yang menjual aneka macam barang terkenal dengan sebutan Pasar Yaik.

Pasar Yaik

Disebut Pasar Yaik, konon karena kata ya…ikk…! terucap dari mulut penjual sebagai pertanda terjadi kesepakatan, deal harga dengan pembeli, setelah diwarnai tawar-menawar yang sengit, namun penuh keakraban. Konon, Pasar Yaik ramai pada kurun 1970-1980-an sebelum bubar, entah oleh sebab apa.

Pasar Yaik wajah baru sudah mulai diuji coba sejak Selasa (10/2) malam, meski baru akan diremikan pada 16 Pebruari malam, menjelang peringatan ulang tahun Kota Surakarta keesokan harinya. Oleh karena pasar malam, maka pasar yang nantinya khusus untuk penjaja cinderamata dan makanan kering hanya dibuka pada malam hari saja. Sejak pukul 17.00 hingga pagi hari, jalan ditutup untuk berbagai kendaraan sebab dikhususkan bagi pejalan kaki.

Dengan adanya Pasar Yaik, saya senang dan tak lagi bingung setiap ada teman datang bertandang lalu bertanya dimana mereka bisa memperoleh cinderamata khas Sala, sebagai buah tangan, sarana untuk mengenang bahwa mereka pernah menginjakkan kaki di ibukota bekas kerajaan Mataram itu.

Pasar Triwindu Baru

Dulu, saya selalu bingung menjawabnya setiap ada yang menanyakan demikian. Menyarankan ke sisi timur alun-alun utara, barang yang tersedia tak terlalu fleksibel gunanya. Keris, topeng dan semacamnya, memang banyak terdapat di sana. Cocok untuk menghias ruangan. Tapi kalau yang dicari adalah barang-barang yang bisa dibawa kemana-mana semisal kalung, gantungan kunci atau dompet?!?

Syukurlah, Pasar Yaik sudah kembali hadir. Sebutan sebagai kota yang tak pernah tidur kian menemukan bentuknya kembali. Wedangan memang hampir selalu ada di setiap gang-gang di tengah perkampungan atau sepanjang jalan-jalan utama. Tapi, itu bukan tempat yang cocok untuk jalan-jalan memanjakan mata dan nafsu belanja.

Bisa jadi, Pasar Triwindu (yang kini berganti nama menjadi Pasar Windujenar) akan ikut-ikutan bukan hingga malam hari bila, kelak, Pasar Yaik sukses meneguhkan citra Surakarta sebagai kota wisata. Barang-barang antik yang dijual di sana, akan menggenapi minat para turis kategori wisata belanja.

Memang, ada sebagian orang yang mencibir bahwa Pasar Yaik tak melulu dijual barang-barang asli buatan Sala. Namun, bagi saya, tak ada salahnya membiarkan Pasar Yaik berjalan secara alamiah, mengikuti hukum penawaran dan permintaan. Kian beragam yang dijajakan, makin banyak pula alternatif pilihan belanjaan.

Pasar Windujenar

Siapa tahu, Surakarta, Sala atau yang lebih populer dengan sebutan Solo, menjadi outlet aneka produk kerajinan se-Jawa Tengah. Ada tenun Troso, lurik Pedan, atau batik Slawi dan Kebumen. Seperti Singapura, yang tak punya produk asli, namun aneka jenis produk global tersedia di sana. Daripada pasar kita dipenuhi produk-produk murahan dari China, masih lebih bagus disesaki karya kreatif bangsa kita sendiri.

Posted in Suasana Kota | 13 Comments »

Festival di Pecinan

Posted by Keliling Surakarta on 19th Januari 2009

Sebuah arak-arakan berlangsung meriah, Minggu (18/1) sore. Rombongan berangkat dari Pasar Harjanagara –lebih terkenal dengan sebutan Pasar Gede, berkeliling melewati kampung Sudiroprajan, perempatan Warung Pelem dan berakhir di Pasar Gede. Ada warna-warni liong, samsi dan dua naga, juga rombongan berkostum panakawan.

Liong di Pasar Gede

Peristiwa yang baru pertama kali digelar itu dinamai Grebeg Sudiro. Dikemas dengan sajian multikultur, sebab peristiwa itu sejatinya merupakan peristiwa budaya, yang sengaja diciptakan untuk menambah event dalam kalender acara wisata Surakarta.

Asal tahu saja, Sudiro(prajan) dan Pasar Gede merupakan kawasan yang saling terkait. Kampung Sudiroprajan lebih dikenal sebagai kampung peranakan Cina sebab di situlah Pemerintah Belanda menempatkan mereka sebagai koloni. Tak jauh dari Pecinan, terdapat koloni Arab di Pasar Kliwon. Di antara dua koloni itu, Belanda dan peranakan Eropa membuat kampung ‘pembatas’ yang di kemudian hari dikenal dengan nama loji Wetan.

Itu semua merupakan strategi kolonialis Belanda untuk memperkuat kedudukannya sebagai penguasa Jawa, bahkan di atas Kraton Surakarta. Strategi pecah belah dilakukan dengan memberi banyak priviles kepada keturunan Cina, bahkan kedudukan setingkat lebih tinggi dibanding keturunan Arab. Di komunitas Sudiroprajan diangkat centeng berpangkat mayor, sementara di Pasar Kliwon hanya berpangkat kapten. Padahal, fungsinya mereka sama: sebagai pengumpul pajak dan penanggung jawab keamanan di masing-masing komunitas.

grebeg_sudiro_7711.jpg

Kembali ke Grebeg Sudiro, festival itu mestinya bisa diperluas cakupannya, tidak sebatas kegiatan amal seperti pengobatan tusuk jarum gratis atau pembagian sembako dan sejenisnya. Kegiatan-kegiatan karitatif semacam itu justru akan membenarkan prasangka dan jebakan stereotiping, dimana keturunan Cina lebih mapan secara ekonomis dibanding mereka yang merasa lebih ‘pribumi’.

Padahal, di Sudiroprajan pula, sangat banyak saudara-saudara kita yang beretnis Cina juga hidup dalam situasi ekonomi serba pas-pasan. Mereka yang berhasil dan kaya, kebanyakan sudah menetap di luar Sudiroprajan.

Satu catatan pribadi saya atas Grebeg Sudiro adalah kurang beragamnya tampilan. Banyak jenis kesenian warisan nenek moyang kaum Tionghoa seperti wayang potehi, atau musik khas Tiongkok dan sebagainya di Surakarta. Sebab, kalau tak salah ingat, masih ada grup musik di Gandekan, dimana para musisinya juga masih hidup hingga kini.

Keragaman menjadi penting dikedepankan, supaya orang tak salah paham dan terjebak pada prasangka yang dilatari oleh ketidaktahuan mengenai kenyataan yang sesungguhnya, sehingga berujung pada pertentangan dan (apalagi) kebrutalan seperti dipertontonkan secara telanjang lewat Drama Dua Hari pada Mei 1998.

grebeg_sudiro_7749.jpg

Tak cuma terhadap pemerintah semata, lebih dari itu, kesadaran dari anggota komunitas keturunan Cina harus lebih ditumbuhkan. Banyak kegiatan amal dilakukan, termasuk partisipasi mereka dalam berbagai musibah, dari bencana tsuami di Aceh, gempa Klaten-Yogyakarta, banjir Surakarta, dan banyak lagi. Sudah banyak catatan keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Lebih dari itu, saya berharap festival-festival mendatang lebih diwarnai kegiatan-kegiatan yang lebih down to earth, dalam bentuk yang lebih praktis dan bersentuhan dengan masyarakat banyak yang eragam latar belakang kultur, sosial, ekonomi dan sikap politiknya.

Jujur, saya rindu dengan sikap ngemong, santun dan memberi aura kedamaian seperti yang ditunjukkan Haksu Tjie Tjay Ieng. Berbincang dengan rohaniwan setingkat dewan syuro dalam Konghucu seperti beliau, saya merasa ayem dan tenang menyongsong masa depan Indonesia. Nah, sifat-sifat seperti beliaulah, yang hingga kini masih saya harapkan tumbuh pada diri para penggerak festival atau Grebeg Sudiro.

Selamat merayakan Imlek saudara-saudaraku. Gong Xi Fat Chai…..

Posted in Suasana Kota | 4 Comments »

Menanti Pasar Cinderamata

Posted by Keliling Surakarta on 6th Januari 2009

Tak lama lagi, bakal ada pasar khusus cinderamata alias produk-produk kerajinan di Kota Surakarta. Tepatnya di sepanjang Jl. Diponegoro, seberang pintu gerbang Pura Mangkunegaran. Rencananya, pasar itu akan dikenalkan kepada public sebagai night market. Pasar yang dibuka hanya pada malam hari, bukan pasar malam yang diramaikan dengan komidi putar atau tong setan.

Suasana Jalan Sekitar Pasar Triwindu

Bagi Anda yang kemarin mudik Natalan atau liburan, mungkin kaget melihat kiri-kanan jalan sekitar Pasar Triwindu terbebas kemacetan akibat padatnya parkiran di depan kios-kios elektronik. Jalanan menjadi lancar dilalui. Mungkin kaget dan mengira ada program ‘sapu bersih’ bagi para pedagang di sana.

Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Pemerintah sedang menata kawasan Triwindu menjadi lokasi jalan-jalan yang menyenangkan, seperti Malioboro di Yogyakarta, meski saya yakin tak bakal dibiarkan sedemikian semrawut. Pasar itu juga untuk memenuhi kebutuhan para pelancong –entah dengan alasan bisnis, pakansi atau sekadar nengok teman kencan, akan buah tangan khas Surakarta yang bisa dibawa pulang untuk keluarga, sahabat dan kerabat.

Operasi pembersihan itu juga menjadikan Jl. Diponegoro kian luas, setidaknya lebih lebar empat meter dari sebelumnya. Dari arah perempatan Pasar Pon, lansekap Pura Mangkunegaran juga bakal tampak menonjol. Dan, Pamedan akan tampak lebih berdaya sebelum mata tertuju ke pendapa utama peninggalan Pangeran Sambernyawa itu.

Kata Pak Jokowi, sang walikota, night market itu untuk melengkapi keberadaan Gladag Langen Bogan (Galabo), yakni arena khusus bagi pengelana rasa atau penggembala lidah manja. “Kalau kebutuhan perut dan rasa telah dipenuhi, kenapa wisatawan tak diajak berbelanja cinderamata,” begitu katanya.

Tikungan Mangkunegaran

Ada cerita begini dari Pak Walikota. Kalau dulu pedagang dibujuk mengisi gerobak kuliner di Galabo dengan komposisi 60:30:10 bagi pengusaha makanan yang beken : setengah beken : dan pendatang baru, di night market justru akan dibalik. Pemilik brand hanya sekitar 10 persen, 30 persen lainnya perajin yang sedang naik daun dan selebihnya bagi pemain-pemain baru.

Kemana pedagang lama, penghuni kios-kios di sepanjang jalan itu? Rupanya, mereka tak dibuang begitu saja. Dan mereka tak merasa sedang digusur pemerintah, sebab kini juga sudah dibuatkan bangunan permanen mirip mal di belakang kios lama mereka. Jadi, ayam goreng Malioboro atau Denai, warung masakan Padang yang ada di ujung jalan pun tidak hilang dari orbit mereka.

Saran saya, menabunglah mulai sekarang. Mungkin, pertengahan tahun ini Anda harus memenuhi nafsu Anda menyimpan pernik-pernik khas Surakarta sembari mengantar liburan anak-anak sambil menenggok eyang, paklik/bulik, pakdhe/budhe atau sobat lama Anda. Bagi pemudik lebaran atau Natalan, tenanglah. Waktu masih panjang………


Posted in Suasana Kota | 5 Comments »

Ayo Piknik ke Balekambang

Posted by Keliling Surakarta on 4th Januari 2009

Gala Dinner

Setahun terakhir, warga Kota Surakarta memperoleh ‘tempat bermain’ baru di Balekambang. Ya, Taman Balekambang namanya. Ia menyusul citywalk dengan taman-taman asri di sepanjang Jl. Slamet Riyadi, dari Purwosari hingga Gladag, atau taman serupa di sekitar Stadion Manahan. Pada hari libur, para orang tua suka membawa anak-anak dan keluarga mereka ke sana. Riuh, tapi riang.

Di taman-taman itu, kini banyak remaja bercengkerama, pada sore atau malam hari. Kecuali di Manahan, sebagian dari mereka asyik berselancar di dunia maya, karena Pemerintah Kota dan Telkom telah berbaik hati mengumbar bandwith Speedy.

Balekambang, yang konon berasal dari gabungan kata bale (Jw. Balai) dan kambang (Jw. Mengapung) menunjuk pada keberadaan sebuah balai di atas telaga kecil. Begitu sederhananya orang Jawa dalam membuat istilah baru, dengan cara sangat praktis, yang penting mempermudah pelafalan. Karena balai mengapung yang terletak di antara pepohonan besar nan rindang, lalu disempurnakanlah ia menjadi taman.

Dibangun pada 1921 oleh KGPAA Mangkunagara VII, taman itu lantas dinamai Partini Tuin, sebuah taman untuk mengabadikan putrinya tercinta yang bernama Partini. Tak cuma untuk bercengkerama pada siang hari, di sana juga menjadi ruang publik dalam arti sesungguhnya. Aneka kesenian tradisional, termasuk tarian dan ketoprak sering digelar di sana.

Balekambang Dulu

Jejaknya sebagai ruang publik terus bertahan. Keluarga Seniman Muda Surakarta berusaha menghidupkan kembali Balekambang lewat panggung ketoprak, namun gagal. Publik lebih berselera menonton sinema elektronik di televisi yang kian menjamur pada 1990-an daripada ketoprak yang dianggap jadul. Padahal, di tempat yang sama, nama Srimulat berkibar tinggi, hingga mencuatkan nama-nama pelawak seperti Gepeng, Pete, dan Jujuk, sebelum akhirnya juga menyerah pada takdir.

Masa kelam Balekambang adalah justru terjadi sepeninggal Srimulat. Dunia gemerlap lebih disukai (seperti banyak dijumpai pada tayangan televisi), sehingga diskotiklah yang lantas memberi warna Balekambang sebagai ‘ruang publik’. Tiap malam, puluhan Pi-aR, sebutan untuk perempuan penghibur yang bekerja secara freelance alias tak menginduk pada nama besar germo, berkeliaran di seputar Balekambang.

Mereka berbaur dengan perempuan-perempuan menor yang dikenal dengan sebutan rendan (akronim dari kere dandan), yang kebanyakan lantas ‘mojok’ di bawah pepohonan besar di sekitar panti pijat yang menawarkan solusi kebugaran semu.

Untung, semua itu sudah menjadi cerita masa lalu. Kini, Balekambang benar-benar menjadi sebuah taman yang asri. Nyaris mirip Kebun Bogor, meski berbeda pada beberapa hal, seperti luasnya atau tiadanya istana negara. Tiga rusa sudah didatangkan untuk meramaikan Balekambang, yang kelak bakal dikembangkan menjadi taman botani. Banyak pepohonan aneh, eh langka mulai ditanam di sana, sumbangan dari sejumlah pejabat negara, tokoh publik hingga sejumlah pejabat diplomatik negara sahabat. Sebuah teater terbuka juga sudah dibangun, bersebelahan dengan gedung baru untuk pentas ketoprak, kelak.

Taman Balekambang

Pokoknya, Taman Balekambang kini benar-benar indah, nyaman untuk rekreasi keluarga. Untuk menikmatinya, semua digratiskan kecuali parkir yang dikelola oleh sejumlah anak-anak muda, yang tampaknya bukan ‘wakil’ aparatur Pemerintah Kota Surakarta.

Yang perlu dijadikan catatan dalam ingatan kita hanyalah bagaimana turut merawat Balekambang agar tetap asri dan nyaman. Jangan membuang sampah sembarangan, syukur mau menyumbang bibit tanaman. Asal tahu saja, areal di sekitar taman sengaja dijadikan sebagai daerah resapan, agar air yang kian mahal, tak langka dari Surakarta.

Posted in Suasana Kota | 19 Comments »

Meriahnya Karnaval Batik

Posted by Keliling Surakarta on 17th April 2008

blog3.jpg

Untuk pertama kalinya, sebuah karnaval besar berlangsung meriah di Surakarta. Tak hanya rapi, suasana agung sangat terasa selama fashion on the street berlangsung sejak selepas tengah hari hingga petang. Ratusan peserta, sebagian besar di antaranya para model Jember Fashion Carnival (JFC), benar-benar menyemarakkan Solo Batik Carnival 2008.

Semoga, fashion show ala Fashion TV itu bisa menjadi kalender peristiwa yang mendatangkan daya tarik pelancong, entah tahunan atau dua tahun sekali. Walikota Joko Widodo, pun menginginkan peristiwa semacam itu rutin berulang, sehingga roda perekonomian rakyat kian kencang berputar.

Masalahnya, seberapa kuat pemerintah daerah mampu menjaga keajegan acara? Kali ini saja, pembiayaan ditanggung sebuah perusahaan yang sedang membangun apartemen di pusat kota. Kabarnya, tahun depan akan membiayai kegiatan serupa, bahkan sudah menetapkan tanggalnya, pada 12 April.

blog_2.jpg

“Demi memajukan pariwisata Surakarta, kami akan support habis-habisan, khususnya untuk promosinya,” kata Walikota saat gala dinner di Pura Mangkunegaran, Sabtu (12/4) malam. Kata Pak Jokowi, pihaknya sudah mendata semua potensi ‘jualan kota’ seperti kekayaan seni-budaya, kerajinan dan peninggalan bersejarah.

Meski karnaval pertama didominasi arek-arek Jember, namun kerja keras mereka perlu diacungi jempol. Adalah Dynand Fariz, Presiden JFC yang habis-habisan menyeleksi peserta, baik lewat audisi maupun workshop. Sehingga, penampilan ratusan peserta lokal yang terdiri dari pelajar/mahasiswa, pelaku usaha batik dan instansi pemerintah, tak terasa timpang, dibanding penampilan para model JFC.

Satu yang menarik, JFC yang merangkap sebagai event organizer telah memberi pelajaran berharga bagi pemerintah dan warga Surakarta. Kegiatan semacam itu tak perlu harus ditangani EO lokal, bila memang tak ada organisasi yang mampu.

blog.jpg

Semoga, karnaval tahun mendatang lebih bagus dan berbeda dari yang baru saja berlalu. Sehingga, orang tak cepat bosan. Dan masih mau datang kembali, sambil mengajak kerabat, sahabat dan handai-taulan.

Posted in Suasana Kota | 11 Comments »

Selamat Ulang Tahun, Surakarta…

Posted by Keliling Surakarta on 17th Februari 2008

Memasuki usianya yang ke-263, Surakarta hampir kelar berbenah. Kota kian nyaman. Trotoar makin hijau, taman juga bertebaran di hampir seluruh penjuru kota. Pedagang kakilima pun tak lagi jadi klilip.

upacara_sala

Citywalk, kawasan bagi pejalan kaki sudah dibangun mulai Purwosari dan akan bermuara ke kompleks Beteng Vastenburg, kawasan baru sebagai pusat jajanan di Sala. Sejumlah pedagang makanan yang selama ini jadi ikon menu-menu unggulan, rencananya juga akan membuka cabang di sana.

Kelak, di sisi selatan sepanjang Jl. Slamet Riyadi, orang akan menyaksikan sejumlah pusat nongkrong yang nyaman. Di bawah rimbun pepohonan, akan dijumpai orang-orang nge-net dengan fasilitas hotspot yang bakal disediakan oleh Pemerintah Kota, sambil menyantap aneka jenis makanan dari gerobak-gerobak yang digratiskan untuk pedagang kakilima.

citywalk

Menandai ulang tahun yang jatuh pada Minggu, 17 Pebruari, walikota mengumumkan pemakaian aksara Jawa untuk melengkapi papan nama. Baik papan nama jalan, mal, pertokoan, hotel, restoran, juga kantor-kantor swasta.

Yang pasti, Sala akan menjadi daerah tujuan wisata yang menarik. Setiap pendatang, akan pergi membawa serta sejumlah kenangan. Kelak, kaum pebisnis akan betah berlama-lama dan membelanjakan uangnya, tidak sebatas pada aneka ‘jajanan malam’ yang memang berserak di seluruh sudut kota.

Taman Balekambang, kini tinggal menunggu penyelesaian pembangunan tahap akhirnya. Yang dulu kumuh, kini berubah jadi taman kota yang mengasyikkan. Teater terbuka juga sudah tersedia, berjarak sepelemparan batu dengan gedung ketoprak yang turut dibarukan.

reksapraja

Jangan ragu, tamasya ke Sala akan nyaman. Pemerintah Kota sudah membuat ‘pasukan khusus’ yang bakal mendampingi pengunjung, khususnya pada saat berlangsung event-event udaya. ‘Pasukan’ Reksa Praja beranggotakan 120-an orang disiapkan dengan kostum ala prajurit kerajaan. Kelak, mereka akan dilatih supaya fasih berbahasa Inggris pula.

Selamat ulang tahun, Sala….. Eh, Surakarta.

Posted in Suasana Kota | 8 Comments »

Suasana Baru Tirtonadi

Posted by Keliling Surakarta on 11th Februari 2008

Surakarta terus berbenah. Terminal Tirtonadi juga kian ramah. Tak seperti kebanyakan terminal bus di berbagai kota, lingkungan Tirtonadi kian padhang. Bukan semata terang oleh gemerlap lampu, tapi juga padhang lantaran tak ada preman dan perempuan malam berkeliaran.

Di dalam terminal, pengasong dan pengamen terus ditertibkan sejak beberapa tahun terakhir. Turun dari bus malam pada tengah malam, pun kian nyaman. Tak perlu takut atau cemas diganggu orang-orang berniat merampas. 

tirtonadi 

Ijinkan, saya mengajak Anda memberikan apresiasi yang sepadan kepada Walikota Joko Widodo. Cita-citanya mewujudkan Sala sebagai kota dagang dan pelesiran yang nyaman, terus diupayakan. Taman kota terus bermunculan. Tak hanya di jalan-jalan protokol, di daerah pinggiran dan perkampungan pun, kini banyak ruang-ruang hijau. 

Simak saja bagaimana ia menata terminal sejak setahunan silam. Di seberang terminal, sebuah taman kota sudah selesai ditata. Tinggal menunggu pohon-pohon palem menghijau, juga rumput dan taman bunga. Pada sore dan malam, kini ramai dikunjungi warga. 

Penerangan ditata sedemikian rupa, sehingga bangku-bangku beton nyaris terisi manusia menikmati pemandangan. Bantaran yang dulu kumuh oleh bedeng-bedeng liar, kini bersih total. Taksi resmi, taksi gelap dan ojek dipindahkan lokasi mangkalnya. 

Rencananya, sungai di samping taman juga akan ditata. ‘Pulau-pulau’ yang kini rimbun oleh rerumputan liar akan dibersihkan. Kabarnya pula, akan segera didatangkan sejumlah perahu untuk wisata air. Sungai dengan dam kecil yang pada masa kolonial Belanda dulu pernah populer dengan sebutan Praon, rupanya akan dihidupkan kembali.

Praon, yakni tempat bersampan, kini hanya dikenali generasi kelahiran tujuhpuluhan pada jejaknya semata: menjadi nama kampung di utara kali. Bila obyek wisata air terwujud kelak, orang-orang tak akan lagi kesulitan mengingat asal-usul nama kampung di sana. Warga sekitar (juga para pelancong) bisa menikmati bersampan atau naik perahu kecil berputar-putar di kali selebar 50-an meter itu. 

Karena terobsesi menjadikan Sala sebagai kota tujuan pelesiran dan belanja seperti kota-kota di Singapura, ijinkan saya menyebut kawasan kali itu seperti River Point di Singapura. Bedanya, di Tirtonadi tak ada perahu-perahu pesiar yang bisa mengantar penumpangnya dari dermaga-dermaga yang menyatu dengan hotel. 

Asal tahu saja, di Sala, belum ada hotel berbintang yang sengaja didirikan di pinggir kali.

Posted in Suasana Kota | 6 Comments »

Sensasi Wedangan Sala

Posted by Keliling Surakarta on 9th Februari 2008

Sala memang disesaki beragam orang dengan selera aneh-aneh. Jangankan bara arang dicelupin ke dalam seduhan kopi, bubuk coklat yang diseduh dengan air jahe plus tape beras pun lazim dipesan pengunjung wedangan­ –sebutan untuk kedai kakilima yang menjual aneka jenis minuman panas dan dingin.

 Di Sala, kedai beginian populer disebut wedangan. Di tlatah Yogya, sebutannya lain lagi: angkringan atau warung koboi. Ciri khasnya sama, penjual menggunakan gerobak dorong. Sepertiga bagian digunakan untuk tungku penjerang air, sebagian lainnya untuk menggelar aneka penganan dan nasi bungkus yang mashur dengan sebutan sego kucing.

 kemin2

Umumnya, si penjual berposisi sebagai pusat. Ia dikelilingi pelanggan yang duduk di bangku panjang mengitari penjual pada dua atau tiga sisi gerobak yang berfungsi sebagai meja. Penjual, biasanya menyediakan sejumlah tikar, yang biasanya digelar di beberapa tempat di sekitarnya, sesuai selera pengunjung.

 Bagi yang ingin mojok karena ingin melewati malam bersama kekasih atau atas dasar ingin menjaga privacy, mereka bia memilih tempat yang agak kiwa atau menjauh dari pusat.

 Begitulah suasana wedangan. Orang datang dengan alasan dan agenda sendiri-sendiri. Transaksi jual-beli bisa dilakukan di tempat-tempat begini, pembicaraan politisi juga biasa dilangsungkan dalam suasana wedangan. Kadang, orang datang hanya sekadar mengisi perut lalu pulang. Ada pula yang betah tinggal semalaman, menenggak bergelas-gelas wedang.

 Di antara ratusan tempat wedangan yang berserak di seluruh penjuru dan sudut-sudut kampung, Wedangan Kemin di belakang Monumen Pers adalah tempat favorit saya. Pak Yo, generasi kedua wedangan itu baru setahun ‘diusir’ (konon dengan kompensasi Rp 5 juta) dari tempat lamanya, di seberang monumen. Tempat lama yang telah dipakainya puluhan tahun, kabarnya akan disulap menjadi gedung perpustakaan, mungkin pula untuk rumah dinas Wakil Walikota.

 Di Wedangan Kemin, saya menyukai teh kental bikinannya. Coklat-jahe-tape-nya juga oke. Nasi oseng-osengnya juga lezat, lumayan pedas. Enak disantap dengan lauk kikil pilihan, apalagi dibakar terlebih dahulu. Di sinilah, teman atau relasi dari luar kota biasa saya bawa. Biasanya mereka bilang senang. Ada sensasi lain, katanya.

 Kalau sudah lewat tengah malam dan agak sepi pengunjung, saya sering meminta Perry, ‘pilot’ becak yang kerap nyambi sebagai pramusaji, untuk memijat. Pulang nongkrong badan bugar. Bangun pun lebih segar. Hmmm…

 Selain Wedangan Kemin atau Pak Yo, wedangan Mas Muji di Jl. Honggowongso, Tipes juga merupakan tempat favorit penggemar begadang. Hanya saja, saya kurang sreg karena terlalu ramai pengunjung.

 Wedangan dengan sajian teh yang mantap juga bisa ditemukan di Jl. MT Haryono, tak jauh dari kantor PLN Gondang. Sego kucing-nya juga pulen. Enak. Oh ya, hampir lupa. Sego kucing adalah sebutan (tepatnya olok-olok) untuk nasi sekepal dengan sambal dan lauk sekerat ikan asin yang dibungkus. Mungkin pantasnya untuk ngasih makan kucing piaraan, kaleeee……

 Jika Anda penikmat teh, Anda harus mengingat satu hal, terutama jika memilih tempat wedangan secara acak. Jangan lupa menyebutkan takaran gula dan tingkat kekentalannya. Kebanyakan penjual dikenal royal untuk urusan gula. Dua sendok makan adalah takaran standar, sehingga bila diaduk akan menonjolkan rasa manis berlebihan.

 Kalau hanya memesan teh panas, bisa dipastikan kepada Anda akan disuguhkan teh manis, kecuali menyebutkan permintaan teh tawar (berkebalikan dengan di Jakarta atau Bandung, yang selalu diberikan teh tawar bila tak mengemukakan permintaan sejak awal).

 Berbeda dengan kebanyakan warung di Jakarta yang maunya serba praktis dengan teh celup, kebanyakan penjaja di Sala memiliki ramuan berbeda-beda. Biasanya, dua atau lebih merek teh dicampurkan untuk membuat formula khusus. Karena itu, rasanya akan berbeda di setiap wedangan. Mungkin, itu pula yang membuat orang selalu kangen menyeruput wedang teh di luar rumah.

Posted in Suasana Kota | 12 Comments »