Keliling Surakarta

Kami antar Anda menelusuri sisi Surakarta hingga yang terdalam

Sensasi Wedangan Sala

Posted by Keliling Surakarta on Februari 9th, 2008

Sala memang disesaki beragam orang dengan selera aneh-aneh. Jangankan bara arang dicelupin ke dalam seduhan kopi, bubuk coklat yang diseduh dengan air jahe plus tape beras pun lazim dipesan pengunjung wedangan­ –sebutan untuk kedai kakilima yang menjual aneka jenis minuman panas dan dingin.

 Di Sala, kedai beginian populer disebut wedangan. Di tlatah Yogya, sebutannya lain lagi: angkringan atau warung koboi. Ciri khasnya sama, penjual menggunakan gerobak dorong. Sepertiga bagian digunakan untuk tungku penjerang air, sebagian lainnya untuk menggelar aneka penganan dan nasi bungkus yang mashur dengan sebutan sego kucing.

 kemin2

Umumnya, si penjual berposisi sebagai pusat. Ia dikelilingi pelanggan yang duduk di bangku panjang mengitari penjual pada dua atau tiga sisi gerobak yang berfungsi sebagai meja. Penjual, biasanya menyediakan sejumlah tikar, yang biasanya digelar di beberapa tempat di sekitarnya, sesuai selera pengunjung.

 Bagi yang ingin mojok karena ingin melewati malam bersama kekasih atau atas dasar ingin menjaga privacy, mereka bia memilih tempat yang agak kiwa atau menjauh dari pusat.

 Begitulah suasana wedangan. Orang datang dengan alasan dan agenda sendiri-sendiri. Transaksi jual-beli bisa dilakukan di tempat-tempat begini, pembicaraan politisi juga biasa dilangsungkan dalam suasana wedangan. Kadang, orang datang hanya sekadar mengisi perut lalu pulang. Ada pula yang betah tinggal semalaman, menenggak bergelas-gelas wedang.

 Di antara ratusan tempat wedangan yang berserak di seluruh penjuru dan sudut-sudut kampung, Wedangan Kemin di belakang Monumen Pers adalah tempat favorit saya. Pak Yo, generasi kedua wedangan itu baru setahun ‘diusir’ (konon dengan kompensasi Rp 5 juta) dari tempat lamanya, di seberang monumen. Tempat lama yang telah dipakainya puluhan tahun, kabarnya akan disulap menjadi gedung perpustakaan, mungkin pula untuk rumah dinas Wakil Walikota.

 Di Wedangan Kemin, saya menyukai teh kental bikinannya. Coklat-jahe-tape-nya juga oke. Nasi oseng-osengnya juga lezat, lumayan pedas. Enak disantap dengan lauk kikil pilihan, apalagi dibakar terlebih dahulu. Di sinilah, teman atau relasi dari luar kota biasa saya bawa. Biasanya mereka bilang senang. Ada sensasi lain, katanya.

 Kalau sudah lewat tengah malam dan agak sepi pengunjung, saya sering meminta Perry, ‘pilot’ becak yang kerap nyambi sebagai pramusaji, untuk memijat. Pulang nongkrong badan bugar. Bangun pun lebih segar. Hmmm…

 Selain Wedangan Kemin atau Pak Yo, wedangan Mas Muji di Jl. Honggowongso, Tipes juga merupakan tempat favorit penggemar begadang. Hanya saja, saya kurang sreg karena terlalu ramai pengunjung.

 Wedangan dengan sajian teh yang mantap juga bisa ditemukan di Jl. MT Haryono, tak jauh dari kantor PLN Gondang. Sego kucing-nya juga pulen. Enak. Oh ya, hampir lupa. Sego kucing adalah sebutan (tepatnya olok-olok) untuk nasi sekepal dengan sambal dan lauk sekerat ikan asin yang dibungkus. Mungkin pantasnya untuk ngasih makan kucing piaraan, kaleeee……

 Jika Anda penikmat teh, Anda harus mengingat satu hal, terutama jika memilih tempat wedangan secara acak. Jangan lupa menyebutkan takaran gula dan tingkat kekentalannya. Kebanyakan penjual dikenal royal untuk urusan gula. Dua sendok makan adalah takaran standar, sehingga bila diaduk akan menonjolkan rasa manis berlebihan.

 Kalau hanya memesan teh panas, bisa dipastikan kepada Anda akan disuguhkan teh manis, kecuali menyebutkan permintaan teh tawar (berkebalikan dengan di Jakarta atau Bandung, yang selalu diberikan teh tawar bila tak mengemukakan permintaan sejak awal).

 Berbeda dengan kebanyakan warung di Jakarta yang maunya serba praktis dengan teh celup, kebanyakan penjaja di Sala memiliki ramuan berbeda-beda. Biasanya, dua atau lebih merek teh dicampurkan untuk membuat formula khusus. Karena itu, rasanya akan berbeda di setiap wedangan. Mungkin, itu pula yang membuat orang selalu kangen menyeruput wedang teh di luar rumah.

Posted in Suasana Kota | 6 Comments »

Nge-Mie di Atas Kali

Posted by Keliling Surakarta on Februari 9th, 2008

Nge-mie di atas Kali Pepe asyik juga. Belum sebanyak hitungan jari, memang. Tapi beberapa menu sudah saya coba, seperti mie bakso, bakso kuah, mie ayam, juga mie pangsit. Hampir semua menu terasa pas di lidah.

gajahmas_031 

Itulah mie Gajah Mas, yang membuka usahanya di sebuah bangunan sempit di atas Kali Pepe, tepat di ujung jembatan yang menghubungkan Balaikota dengan Pasar Gede. Pemiliknya mengklaim kehalalan semua menunya. Maka tak aneh, warung itu selalu dijejali pengunjung sejak buka jam 9 pagi hingga hampir jam 9 malam. 

Karena berjubelnya pelanggan, sampai trotoar bagi pejalan kaki di salah satu sisi jembatan pun dipenuhi payung peneduh dengan kursi-kursi mengitari meja bulat. 

Di warung ini, saya menyukai mie bakso dan mie ayam jamur. Sedang istri saya, menyukai hampir semuanya, terutama pangsitnya yang selalu dicari pelanggan. Suatu ketika, saya bersama teman makan bersama di sana. Belum sempat pesan, sang teman mendahului memesankan mie pangsit untuk saya. Karena tak terlalu suka, maka pangsit saya pinggirkan sementara mie tandas tak terlalu lama. 

gajahmas_2

“Kok, pangsitnya tidak dimakan, Mas,” tanya lelaki di samping saya. “Saya kurang suka, Pak,” sahut saya kepada lelaki yang datang bersama pasangannya itu. 

“Wah, sayang sekali. Saya sudah kehabisan saat memesannya….,” tukasnya. Saya bingung. Dalam hati, sayang juga menyisakan pangsit, tapi apa mau dikata karena memang saya tak suka. Saya tahu, membuang makanan sama saja dengan menyia-nyiakan nikmat dan rejeki dari Tuhan. 

“Saya suka pangsit di sini… Banyak orang juga datang kemari karena kelezatan pangsit itu, lho,” ujarnya. 

Maunya jaim, berusaha tenang. Tapi ekspresi wajah saya telanjur tersipu. Tak kurang akal, saya mencoba berkelit. 

“Maaf, Pak. Saya jadi nggak enak sama Bapak. Habis, porsinya terlalu banyak sih, sampai saya kekenyangan.”

Posted in Lidah Manja | 1 Comment »

Koes Plus Tak Lagi Ngak-ngik-ngok

Posted by Keliling Surakarta on Februari 8th, 2008

Ada forum klangenan yang, mungkin, tidak dapat dijumpai di tempat lain. Ya, di Sala, tepatnya di THR Sriwedari, ada pentas musik bertajuk Koes Plus-an, setiap Kamis malam. Tak ada libur kecuali pada hari-hari besar keagamaan.

koesplus1 

Sesuai namanya, sepanjang durasi pergelaran pukul 19.30 - 22.30, hanya dilantunkan tembang-tembang jadul karya-karya Koes Plus, yang oleh Bung Karno disebut kelompok musik ngak-ngik-ngok. Sudah lebih dari empat tahun, Nusantara Band yang menjadi home band, tampil di sana. 

Penonton tumpah ruah. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam pula, mulai tukang tambal ban hingga pejabat pemerintahan. Bahkan, banyak preman menghabiskan sebagian malamnya di sana. Tapi, pada malam-malam begitu, wajah mereka penuh damai. Tak ada sangar-sangarnya sama sekali. Peace! 

Seribuan pengunjung selalu setia hadir. Tak hanya dari tlatah Surakarta, sebagian malah jauh-jauh datang dari Ngawi, Jawa Timur. Biasanya, mereka datang berombongan. 

Anda jangan coba-coba menggeneralisir, bahwa fans Koes Plus hanya mereka yang berusia 40-an. Sejak awal kehadiran forum Koes Plus-an, tua-muda berbaur. Malah, banyak rombongan datang dengan tiga generasi sekaligus: ayah/ibu-anak-nenek! 

koesplus2 

Keakraban ala Sala juga sangat terasa. Keramahan yang saya yakin tak bakal Anda jumpai di tempat-tempat lain. Bukan hanya bertegur sapa, saat datang atau beranjak pun mereka saling tegur dan bersalaman. Koes Plus-an sungguh pantas disebut sebagai ajang kangen-kangenan. Tak jarang, saya melakukan janji ketemuan di sana. Bisa ngobrol panjang, kadang disela nyanyi bareng mengikuti lantunan vokalis. 

Percaya atau tidak, tiga tahun lampau saya hanya membayar Rp 2.000 untuk masuk. Lama absen, tiket masuk sudah naik seribu rupiah. Kata teman-teman, kenaikan itu justru akibat desakan pengunjung. Bukan sok-sokan. Rupanya, komunitas penonton yang merasa puas terhibur perlu menuntut kenaikan harga tiket supaya honor Nusantara Band meningkat. 

Kini, tanda masuk sudah menjadi Rp 5.000 per orang. Tak ada beda untuk anak atau orang tua. Solidaritas terbangun seiring naluri empati. 

Kalau Anda ingin mencoba suasana baru, percayalah, bukan hanya terhibur, sepulang dari sana akan segera hilang penat-lelah. Puluhan ibu-ibu suka berjoget di belakang. Kadang bisa dijumpai seorang pemuda mabuk, bergoyang bebas di depan pengeras suara.

Posted in Klangenan | No Comments »

Suasana Imlek di Pasar Gede

Posted by Keliling Surakarta on Februari 7th, 2008

Menyaksikan kemeriahan suasana Imlek di Klenteng Avalokiteswara seperti membawa saya ke suasana damai masa lalu. Jauh sebelum Pemerintah Hindia Belanda mengadu domba sesama warga penghuni Kota Sala. 

Suasana yang damai dan keakraban antaretnis terbangun secara apa adanya, natural. Kerusuhan berbau rasial pada Mei 1998, juga pada akhir 1940-an atau awal 1980-an, sesungguhnya dipicu oleh pemisahan komunitas budaya, lalu dikipas-kipas dan dimanipulasi asal-usulnya.  

pasargede

Pasar Gede, menjadi saksi penting perjalanan sejarah interaksi sosial masyarakat Surakarta. Jawa, Cina dan Arab tumpah ruah di pasar itu, terlibat dalam transaksi jual-beli. Sekilas memang wajar, tak peduli asal-usul genetis dan kasta. Kalau memang harus berbelanja di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, niscaya terjadi dialog. 

Yang tak wajar adalah ketika pemerintah Hindia Belanda menjadikan Pasar Gede sebagai laboratorium politik pecah-belah. Sampai-sampai, gagasan arsitek humanis Thomas Karsten yang membangun pasar itu pada kurun 1893-1939 atas titah Raja Surakarta Pakubuwono X, mudah ditumbangkan oleh kepentingan terpadu pemerintah kolonial. 

Gagasan membuat bangunan dua lantai yang tidak menyulitkan kuli gendong dan kuli panggul saat mengangkut barang dagangan, pun dengan mudah ditumbangkan dengan politik preman ala kolonialis Belanda. 

Asal tahu saja, di kompleks pasar yang hanya terpisahkan oleh jalan (kini Jl. Kapten Mulyadi), terdapat kawasan Pecinan (kini bernama kampung Balong). Belanda menunjuk centeng Pecinan sebagai pengutip pajak di Pasar Gede. Dalam rangka politik devide et impera, sang centeng diberi pangkat mayor. Orang-orang tua, dulu menyebutnya dengan Mayor Babah. 

Dibatasi Kali Pepe, persis di selatan Pecinan terdapat kompleks pemukiman untuk orang-orang Belanda dan bangsa Eropa. Lojiwetan namanya. Hingga kini, loji-loji itu masih kokoh berdiri. Dulu, di kawasan itu terdapat gedung societet, semacam gedung kesenian untuk dansa-dansi penggede Hindia Belanda.  

Kawasan Lojiwetan itu terletak di sebelah timur Benteng Vastenburg, kompleks tentara Belanda. Benteng itulah yang dijadikan pusat pertahanan kolonialis sekaligus untuk memantau gerak-gerik kaum pribumi, juga tentara kerajaan. 

Masih terkait dengan politik pecah-belah, di selatan Lojiwetan, pemerintah Hindia Belanda mengkotakkan keturunan Arab ke dalam sebuah perkampungan khusus, yang kini dikenal dengan nama Pasar Kliwon. 

klenteng pasargede

Sebagai pusat interaksi yang terletak di kawasan Pecinan, bersebelahan dengan Pasar Gede terdapat Klenteng Avalokiteswara atau kini bernama Klenteng Tien Kok Sie. Tak jelas asal-usulnya, namun kuat diduga klenteng memang biasa dibangun di daerah dimana komunitas keturunan Cina berada.  

Kali Pepe yang jaraknya hanya sejengkal dengan Pasa Gede, dulunya tak lain merupakan sarana transportasi utama bagi kaum pedagang yang menggunakan perahu atau kapal kecil. Apalagi, Kali Pepe terhubung dengan Sungai Bengawan Sala yang menghubungkan dengan dunia perdagangan internasional dengan pusatnya di Tuban dan Gresik, yang tak lain merupakan hulu Bengawan Sala.

Posted in Muasal | 2 Comments »

Nasi Liwet Bu Sarmi

Posted by Keliling Surakarta on Februari 7th, 2008

warung

Berada di Sala, rasanya kurang afdol kalau tidak mencicipi nasi liwet. Ada banyak pilihan untuk Anda. Pada pagi hari –biasanya antara jam 5 hingga 6.30, hampir di setiap gang di tengah kampung berserak dagangan nasi liwet. Selain nasi liwet, biasanya dijajakan pula bubur tumpang, pecel tumpang dan aneka gorengan seperti bakwan, tempe, tahu dan sosis. Dengan duit Rp 5.000 saja, dijamin sudah kekenyangan. 

Beda pagi, lain pula siang hari, dimana nasi liwet hanya ‘beredar’ di rumah-rumah makan. Di dekat Stasiun Purwosari, tepatnya di Jl. Slamet Riyadi, Anda bisa singgah di rumah makan Lampu Hijau. Agak mahal memang, tapi tak sampai menguras dompet. Dengan sepuluh ribu, sudah didapat santapan lezat, juga teh panas yang enak. Tak kental, tapi sepet-nya sungguh terasa.  

Di rumah makan itu, tersedia gudeg kendil, juga ayam goreng dan bakar. Dijamin asli ayam kampung. Gurih! Soal kehalalan, Insya Allah bisa dipertanggungjawabkan. Sebelum jadi loyal customer, saya mengenal rumah makan itu atas referensi seorang kiai, teman sekaligus mentor spiritual.  

Bagi muslim, urusan halal-haram itu sangat penting. Sang kiai moderat itu selalu menasihati saya dengan kalimat begini: 

Kalau berpakaian, sesuaikan dengan yang umumnya dipakai orang. Soal makan, gunakan ukuran dirimu sendiri. (Pantas saja, sang kiai kadang bercelana jeans dan t-shirt saat kumpul-kumpul dengan pastor, pendeta dan bhiksu. Sedang saat punya hajat, dia tak pernah lupa menyediakan menu vegetarian, agar sang bhiksu juga bisa turut kembul bujana andrawina).

pincuk nasi liwetKembali ke nasi liwet, ingatan kebanyakan dari Anda cenderung tertuju pada Bu Wongso Lemu di Keprabon. Ya, Keprabon memang wilayah jajan di malam hari, baik bagi warga sekitar maupun pelancong. Banyak penjual nasi liwet di sana. Juga gudeg dan masakan Jawa lainnya. Meski tak mahal untuk ukuran kocek pelancong, pembeli lokal cenderung sensitif pada harga. Kalau malas antri atau ingin berhemat –meski tak seberapa terpaut, Anda bisa bergeser sekitar sat kilometer ke timur. Tepatnya, di Jl. Kapten Mulyadi, Lojiwetan, sebelah timur Benteng Vastenburg terdapat warung tenda penjaja nasi liwet. Namanya Bu Sarmi. 

Seperti di tempat-tempat lain, Anda bisa memesan lauk khusus sesuai selera. Bila nasi liwet standar berisi daging suwir dan telur rebus, Anda bisa memesan kulit dan brutu (yang ini pantat ayam. Lezat, meski orang suka risih karena yang disantap adalah saluran BAB!). Atau uritan, yakni sebutan untuk telur yang belum bercangkang. 

suasana jajan

Mengunjungi warung Bu Sarmi, sebaiknya hindari jam-jam makan, sekitar pukul 19.00 hingga 20.30. Bila datang pada saat-saat itu, antrian bisa panjang sehingga Anda dipaksa sabar dan harus awas terhadap bangku yang ditinggalkan pelanggan. 

Soal rasa, saya lebih suka warung ini dibanding jualan Bu Wongso Lemu. Meski ada jaminan rasa dan namanya sudah jadi legenda dan bahkan punya cabang di kawasan superelit di (Hotel) Darmawangsa Jakarta, saya lebih memilih Bu Sarmi. Apalagi, di sampingnya terdapat warung susu segar Shi Jack, sehingga saya bisa memesan langsung lewat pramusaji Bu Sarmi. Ada beragam pilihan menus susu, baik panas maupun dingin. Ada susu-telur-madu-jahe (STMJ), susu coklat, dan belasan kombinasi lainnya. (Khusus susu Shi Jack, tunggu posting mendatang).    

Posted in Lidah Manja | 1 Comment »

Grayak Minulya dan Thengkleng

Posted by Keliling Surakarta on Februari 6th, 2008

Thengkleng

Thengkleng (e pertama dibaca seperti semu, e yang kedua seperti celeng) merupakan jenis masakan yang sedang naik kelas. Belakangan, nilai sebuah pesta bisa disebut menyusut bila tidak menampilkan thengkleng di antara menu standar seperti soto, bakso, sambal goreng atau nasi liwet. 

Padahal, kata thengkleng semula digunakan untuk mengolok-olok. Seseorang biasa menyebut temannya bagai tengkleng bila tubuh sang teman dinilai kelewat ‘langsing’. Sebab, kata itu merujuk pada citra visual, dimana tubuh hanya tampak bagai tulang terbalut kulit. 

Begitu pula yang nyata tampak pada masakan khas Sala bernama thengkleng itu. Anda tak bisa berharap memperoleh daging gempal dalam masakan berkuah encer itu. Kalaupun bisa menikmati daging, pastilah hanya sekerat-dua, itu pun harus dengan mempekerjakan gigi ekstrakeras, berjuang memisahkan daging dari tulang-belulang kambing. 

Kalau rajin mengaduk, masih mungkin menemukan yang empuk. Sumsum yang bersembunyi di rongga tulang bisa diisap, atau tulang iga muda yang mudah dikunyah. Renyah. Biasanya pula, otak masak terbungkus daun pisang dibiarkan berserakan di antara tulang-tulang itu. 

Sebagian orang menganggap thengkleng sebagai masakan tak beradab. Selain membuat mulut belepotan, tangan pun kadang harus meminggirkan peran sendok. Garpu, nyaris tak bisa dipakai menikmati masakan ini. Maka, wijikan (tempat cuci tangan) harus setia menyertai prosesi dhahar, selain tisu atau serbet.  

Tapi, begitulah kepiawaian orang Jawa. Ada saja celah untuk memberi makna lebih untuk kata serapan dari bahasa Arab: mubazir! Kata nggragas (rakus), menjadi kurang relevan di sini. 

Kata thengkleng mengingatkan saya pada istilah grayak minulya. Sulit menemukan padanan kata yang tepat atas sebutan yang dicetuskan almarhum Umar Kayam itu. Kita mudahkan saja grayak minulya sebagi sebutan untuk penjarah yang dimuliakan derajadnya. 

Dulu, pada pertengahan 1990-an, saya (sebagai sopir pocokan Pak Murti) kerap mengantar satu panci besar berisi thengkleng ke rumah Mbah Kayam di Bulaksumur. Kalau tidak kebagian Thengkleng Kadipiro (yang ini langganan keluarga Cendana), masih ada alternatif buatan Mbak Diah yang warungnya berada di pertigaan Tanjunganom, arah Solo Baru dan Baki dari Gemblegan. 

Beberapa hari sebelum kondur Ngayogyakarta, biasanya –lewat telpon, Mbah Kayam dhawuh Pak Murtidjono (saat itu Kepala Taman Budaya Surakarta) untuk mengirim masakan kegemaran budayawan yang siluet wajahnya mirip Kolonel Sanders KFC itu. Ukuran panci yang dibawa pun akan disesuaikan dengan jumlah grayak minulya yang sengaja diundang untuk Kumpul Ora Kumpul Waton Mangan. Selain Butet, biasanya ada Pak Ashadi Siregar, beberapa personil Teater Gandrik, Halim HD, dan Arif Affandi yang kini Wakil Walikota Surabaya, dan sejumlah undangan lainnya. 

Karena berbahan baku kambing, thengkleng tentu (menurut nasihat dokter) kurang baik untuk penderita hipertensi. Tapi, karena thengkleng merupakan masakan eksotis, tetap saja dicari banyak orang. Apalagi, bagi orang yang terbiasa makan di restoran bermenu Eropa, menyantap thengkleng pasti memiliki kesan mendalam.  

Mbrakoti daging yang menempel pada tulang bisa menjadi medium katarsis bagi naluri rakus yang melekat pada setiap manusia. 

Di Sala, mencari thengkleng tidak terlalu sulit. Sebagian warung sate juga menjual thengkleng (kalau yang ini, namanya optimalisasi keuntungan), seperti Sate Mbok Galak di kawasan Sumber. Di pasar-pasar tradisional juga mudah dijumpai penjaja thengkleng, meski untuk pedagang kelas gendongan hanya ada satu yang menonjol dan laris, yakni yang berjualan di sisi timur gapura Pasar Klewer. Untuk yang satu ini, kurang dari sejam sudah habis sejak buka dagangan setiap pukul 14.00 WIB. 

Satu peringatan penting bagi Anda, jangan sekali-sekali merengek minta thengkleng pada malam hari. Saya belum bisa memberitahukan kepada Anda dimana ada penjual thengkleng. Selepas maghrib, mencari penjual thengkleng sama sulitnya dengan mencari pahala!

Posted in Lidah Manja | 5 Comments »

Menu Elek-elekan Harjo Bestik

Posted by Keliling Surakarta on Februari 5th, 2008

Bestik Lidah

Di Sala (orang terbiasa mengucapkan dengan kata Solo), tepatnya di sebelah timur perempatan Pasar Kembang, terdapat warung tenda yang lumayan kesohor. Harjo Bestik, namanya. Beragam menu tersaji, selain bestik lidah sapi sebagai dagangan unggulan. Satu-satunya jenis makanan yang tidak ditampilkan pada daftar menu bernama Elek-elekan.

Elek-elekan berupa pangkal lidah yang digoreng kering. Gurih dan crispy. Enak disantap bersama nasi putih, nasi goreng atau mie goreng yang tersedia pula di sana. Soal kenapa dinamai Elek-elekan, saya tidak tahu persis alasannya. Mungkin diambil dari maknanya, yakni yang serba jelek alias sisa-sisa, sehingga dinamai demikian. Karena ‘barang sisa’ pula, mungkin, menu itu tak dicantumkan di daftar.

Pertama saya mengenal nama menu itu justru dari biang keplek ilat, Butet Kartaredjasa. Saat itu, usai tampil sebagai pembicara di rumah dinas walikota, Butet mengajak kami makan di sana. Semula, saya mengira ia akan memesan bestik (dari kata beefsteak)lidah saja, yang terbukti kemudian keliru. Butet hanya menyantap sedikit nasi putih dengan lauk Elek-elekan, sambil bertutur panjang lebar mengenai salah satu makanan kesukaannya di Sala itu. (Ah, ternyata dia sangat tahu tentang jajanan di Sala).

Elek-elekan, juga nasi goreng dan risol goreng bisa menjadi makanan alternatif bagi yang tak suka rasa manis. Sebab, hampir semua jenis bestik di sana disajikan berkuah dengan kecap manis dan minyak sayur mendominasi rasa. Jangan ragu, makanan di sana masuk kategori halal sehingga nyaman bagi Anda yang puritan beragama.

elek-elekan

Suasana Sala juga bisa dirasakan dengan kehadiran kelompok musik keroncong yang setia menghibur pengunjung setiap harinya. Mulai langgam Jawa klasik hingga lagu-lagu Indonesia terkini bisa dilantunkan mereka. Anda cukup membayar seikhlasnya, tergantung kepuasan yang diperoleh.

Jangan ragu, semua makanan dijual mulai harga Rp 9.000 hingga Rp 12.000-an. Tak mahal untuk ukuran masakan selezat sajian Harjo Bestik. 

Posted in Lidah Manja | 7 Comments »

 
2878 pages viewed, 22 today
1389 visits, 11 today
FireStats icon Powered by FireStats